Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Ritel & UKM
Senin, 11/08/2008 19:39 WIB
Krisis energi ancam ekspansi mebel Jatim
oleh : Dwi Wahyuni
SURABAYA (Bisnis.com): Pelaku industri mebel di Jatim khawatirkan krisis energi dan kenaikan harga bahan baku hingga 40% mengancam kesempatan meraih pangsa pasar di luar negeri.
Wakil Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Syahputra mengatakan saat ini peluang pasar ekspor mebel Indonesia termasuk Jatim di Eropa cukup besar. Hal ini disebabkan pesaing berat yakni China sedang mengalami koreksi. Sayangnya, kesempatan besar itu terbentur dengan masalah di dalam negeri terutama ketersediaan pasok energi listrik dan kenaikan harga BBM.
Kenaikan harga BBM, lanjutnya, telah mendongkrak harga bahan baku industri mebel seperti kayu dan rotan hingga 25%, bahkan lonjakan harga tersebut diperkirakan akan terus berlanjut. Kalangan pengusaha sendiri memprediksikan bahan baku mebel di Indonesia akan merangkak sampai 45% dari harga sebelum kenaikan bahan bakar.
"Kondisi ini masih akan diperparah dengan masalah energi listrik industri yang selain kembang kempis juga tarifnya akan naik," ujar Syahputra yang juga wakil ketua Kadin Jatim kepada Bisnis di Surabaya, hari ini.
Padahal, saat ini kesempatan untuk dapat meningkatkan devisa di luar negeri cukup besar. Bisa dibayangkan, tuturnya, satu perusahaan bisa memiliki peluang tambahan ekspor hingga US$500 juta dengan asumsi menggantikan pasar produsen mebel dari China yang belakangan mulai surut akibat kesulitan bahan baku dan kenaikan upah buruh.
"Tapi sekali lagi kesempatan itu terancam lenyap karena produksi mebel di Jatim dan Indonesia umumnya terbentur kendala energi, lonjakan harga bahan baku dan permodalan," tambahnya.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Indomaret gelar festival vokal
- UKM kesulitan modal ditawari merger
- Matahari bangun lagi gerai di Tunjungan Plaza
- McDonald's akan buka 175 restoran di China
- 4 Pelaku UKM raih Citi Mikro Entrepreneurship Award