Sinopec beli Addax kuasai cadangan minyak di Irak

Kamis, 25/06/2009 19:57:16 WIBOleh: M. Yunan Hilmi
HONG KONG (Bloomberg): China Petrochemical Corp, perusahaan minyak terbesar kedua nasional, akan menguasai cadangan minyak Kurdistan Irak dan Afrika Barat menyusul pembelian Addax Petroleum Corp senilai C$8,3 miliar (US$7,2 miliar).

Sinopec Group, demikian perusahaan ini dikenal, sepakat membeli pada harga C$52,80 per saham Addax secara tunai. Harga itu lebih tinggi 47% dari posisi penutupan di bursa Toronto pada 5 Juni, satu hari sebelum pembicaraan akuisisi itu. Dengan perjanjian itu, Sinopec Group menguasai 42,5 juta barel cadangan minyak di kawasan Kurdi Irak.

China sudah membelanjakan sampai US$5,4 miliar sejak Desember atas aset minyak di Singapura, Siria, dan Kazakhstan setelah harga minyak turun dari posisi tertinggi dan bursa saham anjlok.

"Pembelian Addax ini bisa membantu China mencukupi kebutuhan energi nasional," kata Gordon Kwan, head of regional energy research Mirae Asset Securities Ltd di Hong Kong.

Saham China Petroleum & Chemical Corp, anak usaha Sinopec Group yang masuk bursa, naik 0,4% menjadi 10,56 yuan di Shanghai. Saham perusahaan berbasis di naik 0,4% menjadi HK$5.61.

BP Statistical Review mencatat konsumsi minyak di China naik dua kali lipat selama 10 tahun terakhir yang melonjak menjadi 8 juta barel per hari tahun lalu dari 4,2 juta barel per hari pada 1998. Negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ini mengimpor 3,6 juta barel per hari selama tahun lalu atau 45% dari kebutuhan.

Analis UOB-Kay Hian di Shanghai Wang Aocha menjelaskan China Petroleum, pengilang terbesar di Asia, mengimpor sekitar 400.000 barel minyak per hari untuk memasok pabrik, sedangkan produksi harian Addax sekitar 50.000 barel.

Perjanjian Addax melebihi pengambilalihan PetroKazakhstan Inc oleh China National Petroleum Corp senilai US$4,18 billion pada 2005. Juga tiga pekan setelah Rio Tinto Group membatalkan investasi senilai US$19,5 miliar dari Aluminum Corp of China.

"Jika transaksi ini selesai, agaknya itu perjanjian yang baik. Ini juga bagian dari upaya perusahaan mengamankan mengamankan lebih banyak cadangan minyak di luar negeri," kata Larry Grace, analis minyak independen di Hong Kong.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika