Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Tambang & Energi


Rabu, 30/04/2008 15:10 WIB

Empat hambatan penyediaan listrik nasional

oleh : Antara

BANDUNG: Direktur Utama PT PLN (Persero), Fahmi Mochtar menyebutkan empat tantangan utama yang menjadi penghambat percepatan penyediaan energi listrik nasional.

Keempat tantangan itu antara lain keseimbangan antara demand an supply, tarif dan subsidi, optimalisasi `fuel mix` serta keamanan supply energi primer.

"Dari faktor demand jelas saat ini lebih besar dari kemampuan supply. Peningkatan permintaan berlangganan listrik meningkat dalam sepuluh tahun terakhir ini," kata Fahmi pada "Diskusi Menjaga Sektor Ketenagalistrikan Menghadapi Tantangan Global di Kampus ITB.

Ia mengatakan, dalam menghadapi krisis, PLN telah menyiapkan langkah-langkah strategis baik dari sisi supply maupun sisi demand.

Salah satunya, PLN membuka peluang sebesar-besarnya kepada fihak swasta untuk berpartisipasi di sisi pembangkitan untuk memperkuat pasokan energi listrik nasional.

Menurut Fahmi, diperlukan keberfihakan nasional terhadap sektor ketenaga listrikan guna menjamin kelangsungan pasokan energi listrik di masa mendatang.

"Salah satunya kebijakan untuk menjamin pasokan energi primer sektor kelistrikan," katanya.

Dirut PT PLN Persero itu menyebutkan, total pembangkitan di Indonesia saat ini 29.705 mega watt (MW) yang terdiri dari pembangkitan PLN sebesar 25.000 MW dan sisanya pembangkit swasta.

Sedangkan elektrifikasi masih berkisar 56 persen dengan rata-rata pertumbuhan penjualan energi dalam setahun terakhir sebesar 7,60 persen.

"Konsumsi listrik per kapita kita (Indonesia) masih terendah di ASEAN," katanya.

Menurut Fahmi, tarif penjualan listrik oleh PLN sangat murah yakni Rp625 per KWh, sedangkan biaya produksinya 1.250 per KWh. Sementara itu Tarif Dasar Listrik (TDL) tiak naik sejak kuartal ketiga 2003.

Akibatnya subsidi pemerintah masih sangat besar yakni sekitar Rp60,3 triliun per tahun. Sebagian besar untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Kebutuhan anggaran untuk bahan bakar minyak sekitar Rp60 triliun per tahun. Bila diperbandingkan subsidi Rp60,3 triliun itu setara untuk membangun pembangkit 6.000 MW," ucapnya.

Percepatan

Oleh karena itu, katanya, untuk mengatasi demand yang terus meningkat, PLN melakukan proyek percepatan PLTU 10.000 MW yang diharapkan tuntas 2010.

"Ketersediaan listrik 10.000 MW itu pada 2012 akan terserap seluruhnya, sehingga butuh program PLTU 10.000 MW lanjutan," katanya.

Terkait perkembangan sektor kelistrikan di Indonesia, kata Dirut PLN itu menyebutkan, akibat krisis ekonomi, PLN kehilangan momentum investasi untuk expansi fasilitas ketenagalistrikan sehingga kemampuan PLN saat ini untuk mengakomodasikan pertumbuhan konsumsi energi listrik menjadi berkurang.

"Akibatnya terjadi krisis listrik di beberapa tempat di Indonesia. Todal defisit terjadi di tujuh sistem kelistrikan sebesar 70,14 MW," kata Fahmi.

Lokasi kekurangan pasokan listrik itu antara lain pada sistem Sumatera Bagan Utara, Singkawang, Pontianak, Mahakam, Minahasa, Barito dan Papua. (dj)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • China tambah impor bensin & solar April
  • Rush buying picu permintaan BBM
  • Antam garap proyek US$700 juta
  • Pemerintah diminta cari opsi lain soal BBM
  • Konsumsi subsidi minyak RTM hanya 7%
  • 4 Perusahaan Korsel bangun kilang di Kuwait
  • Venezuela-China kerja sama minyak
  • Chevron akan PHK 1.000 pekerja
  • Caltex Australia akan tutup 2 unit kilang

Komentar

#2 - pembangkit

total pembangkit indonesia yang hanya 29.705 MW masih terlalu kecil bila dibandingkan amerika yang mencapai paling kurang 500.000 MW. padahal jumlah penduduknya cuma beda 60 juta. Kuncinya hindari penggunaan kontraktor asing dalam pembangunannya. Kalau bisa 100 % pembangkit made in Indonesia.

wak culai - pekanbaru @ 02/05/2008 - 04:19 WIB dari 208.60.60.34 (208.60.60.34)

#1 - Empat hambatan penyediaan listrik nasional

Terlalu lambat dalam kebijakan segala hal, 'ekonomi biaya tinggi' masih berlaku dinegara kita yang mengakibatkan sulitnya membuat suatu proyeksi yang efektif dan efisien.

Setyo Wahyoedie - Jakarta/Indonesia @ 30/04/2008 - 19:23 WIB dari 202.147.199.28 (202.147.199.28)

Beri Komentar