Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Tambang & Energi
Selasa, 06/05/2008 13:25 WIB
Kenaikan harga BBM untuk selamatkan APBN
oleh : Ratna Ariyanti & Erna Sari Ulina Girsang
JAKARTA (Bisnis): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali menegaskan bahwa paket kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah, termasuk rencana kenaikan harga BBM, diambil untuk menyelamatkan APBN.
Presiden juga mengakui krisis pangan dan energi yang terjadi pada tataran global merupakan persoalan berat bagi bangsa ini.
"Ini luar biasa. Saya terbuka dan jujur ini persoalan yang berat dan kami carikan solusinya agar APBN selamat dan kredibel," ujar Kepala Negara dalam sambutan acara pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2008.
Paket kebijakan yang akan digulirkan pemerintah mencakup penghematan secara total, mengurangi subsisi BBM dengan menaikkan harga BBM bersubsidi, dan memberikan kompensasi terhadap rakyat miskin melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Presiden berharap agar solusi yang dipilih oleh pemerintah merupakan jalan keluar yang tepat. Selain itu Kepala Negara juga meminta agar semua pihak tetap tenang dan jernih.
Selepas acara pembukaan, Paskah Suzetta, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menyebutkan besaran persentase kenaikan harga BBM direncanakan tidak lebih dari 30%. Pemerintah belum memberikan penjelasan mengenai waktu pemberlakuan kebijakan kenaikan harga BBM. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- PLN cari dana asing US$3,5 miliar
- Pemerintah bersedia ke DPR soal BBM
- Bumi akan jual batu bara ke Jepang
- Sinopec produksi gas lagi setelah gempa
- 'Lambannya keputusan harga BBM rugikan pemerintah'
Komentar
#1 - Penggunaan LPG demi penghematan subsidi
Saya hanya ingin mengomentari mengapa pemerintah tidak secepatnya melakukan penyesuaian terhadap seluruh kendaraan yang menggunakan Bahan Bakar Minyak untuk menggunakan bahan bakar alternatif seperti gas dan bila memang dapat dkembangkan Bio Solar (yang sudah pernah digemborkan sebelumnya). Percepatan SPBU-SPBU yang bisa menyiapkan bahan bakar ini tentu akan berdampak positif. Disisi lain, dari nilai subsidi tentu belum dapat terasa berkurang dalam waktu jangka pendek, keseluruhan baru akan dirasakan pemerintah dalam waktu jangka panjang. Dilain pihak, keseluruhan Pembangkit listrik harus dikaji ulang. Apakah mungkin Indonesia menerapkan sistem tenaga matahari, tenaga angin dan tenaga air. Hal ini tentulah disesuaikan dengan situasi demografi masing-masing wilayah. Sayang sekali, kalau kita harus menjadi negara yang terus terpuruk! kapan bisa bangkit dari krisis! Semuanya ini tentu kita kembalikan kepada pemimpin yang berkuasa saat ini.
Widjaja Buana Thajeb - Sydney/Australia @ 06/05/2008 - 14:17 WIB dari 202.7.166.173 (syd-pow-pr10.tpgi.com.au)