Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Tambang & Energi


Kamis, 14/08/2008 15:45 WIB

Leighton Australia bakal investasi maks. US$609 juta ke Indonesia

oleh : Berliana Elisabeth S.

MELBOURNE (Bloomberg): Leighton Holdings Ltd, perusahaan teknik dan konstruksi terbesar di Australia, menaikkan penjualan sahamnya menjadi A$700 juta (US$609 juta) untuk meningkatkan investasi kontrak tambangnya di Indonesia, India dan Australia.

Leighton menyatakan dana hasil penjualan saham yang merupakan penjualan saham terbesar keenam di Australia tahun ini, akan dipakai untuk menambah investasi plant and equipment di Indonesia, India dan negerinya sendiri.

Indonesia merupakan eksportir batu bara terbesar kedua dunia setelah Australia, sedangkan India pengekspor bijih besi terbesar ketiga dibelakang Brasil dan Australia.

Leighton yang seperempat operasional tambangnya dijual ke BHP Billiton Ltd, akan menjual sahamnya kepada investor strategis sebesar A$35,35 per saham, atau 17% lebih rendah dari harga penutupan kemarin, demikian pernyataan tertulis perseroan hari ini.

Chief Executive Officer Leighton, Wal King, 64, memprediksi keuntungan perseroan naik sebesar 15% tahun ini karena harga komoditas berpotensi naik hingga satu dekade ke depan.

"Kenaikan permintaan komoditas akan masih terus berlanjut dan ini akan memberi peluang bagi perusahaan terkait komoditas," kata Peter Russell, head of research brokerage Intersuisse Ltd.

Harga saham Leighton kemarin turun 5,3% menjadi A$42,36, dan hari ini transaksinya dihentikan sementara. Harga saham sudah anjlok 31% tahun ini ketika harga indeks saham gabungan di Australia terkikis 21%.

Masih tingginya permintaan komoditas di pasar global, khususnya bijih besi dan batu bara, akan mendukung aktifitas kontrak tambang  dan sumber daya yang berkaitan dengan peluang usaha perusahaan, tulis Leighton dalam pernyataan tertulisnya kepada bursa.

Tambang dan eksplorasi sumber alam mencatat 25% dari penjualan Leighton pada tahun yang berakhir 30 Juni, dibelakang engineering dan infrastruktur sebesar 42%.

Permintaan untuk proyek infrastruktur di Australia berkontribusi 35% bagi laba bersih perusahaan pada 2008 sehingga net income mencapai A$607,8 juta.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Badan Geologi segera berubah jadi LPND
  • BBM diduga turun lagi Februari 2009
  • 'Besaran penurunan harga solar tidak dipatok'
  • Irak akan bangun 4 kilang minyak
  • Harga solar bakal turun
  • Korsel kurangi impor minyak mentah
  • RI urutan ke-7 pemberi subsidi terbesar BBM
  • Produksi minyak dunia diprediksi turun
  • PLN jamin tidak ada defisit listrik pada 2009

Komentar

Beri Komentar