Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Tambang & Energi


Jumat, 15/08/2008 15:03 WIB

Perusahaan batu bara akan dikenakan DMO

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bloomberg): Perusahaan batu bara di Indonesia diharuskan memasok ke pasar domestik dengan jumlah yang ditentukan pemerintah, dengan demikian akan membatasi penjualan ke luar negeri.

Pemerintah setiap tahun akan membuat jumlah persentase produksi batu bara yang harus dijual ke pasar dalam negeri, demikian salinan draft Departemen ESDM yang diperoleh Bloomberg News hari ini.

Kebijakan memasok jatah konsumsi dalam negeri atau dikenal dengan istilah domestic market  obligations (DMO) akan dimulai pada tahun depan dan perusahaan yang tidak menaati peraturan akan dikenakan hukuman, demikian isi draft.

"Kami masih akan membicarakannya kepada para pelaku pasar mengenai ketentuan baru ini," kata Direktur Pembinaan Mineral dan Batu bara Bambang Gatot Ariyono.

Harga batu bara yang dijual dalam kontrak harus disesuaikan setiap bulan mengikuti harga di pasar global, demikian tulis draft. Perusahaan diberi waktu tiga bulan untuk negosiasi ulang kontrak jangka panjangnua demi memenuhi ketentuan peraturan baru ini.

Perusahaan batu bara harus melapor dan meminta persetujuan dari departemen ESDM untuk penjualan batu baranya.

Departemen energi menghentikan pengiriman dari enam perusahaan yang setiap tahunnya mengekspor 9,3 juta ton sejak Juli karena tidak membayar royalti batu bara, kata Ariyono pada 12 Agustus.

Permintaan batu bara domestik untuk pembangkit listrik akan melonjak sebesar 32 juta metrik ton setiap tahun hingga 2010 ketika dibukanya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru berkapasitas 10.000 megawatt dengan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Kebijakan itu akan memengaruhi ekspor batu bara Indonesia, yang merupakan eksportir batu bara thermal terbesar dunia.

"Tanpa ada kerusakan di sejumlah tambang, pasokan dari Indonesia ke pasar dunia akan sangat terbatas, dengan demikian persediaan batu bara dunia akan sangat ketat," kata Michael Dixon, executive general manager AME Mineral Economics.

Indonesian Coal Mining Association, Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI), memprediksi produksi naik 9% menjadi 235 juta ton pada 2008, ekspor akan sebesar 180 juta ton tahun ini untuk memanfaatkan kenaikan harga batu bara di pasar global.

Dengan meningkatnya permintaan dari Asia disamping China mengurangi ekspor, produsen dan konsumen batu bara terbesar dunia, dan infrastruktur di Australia yang semakin tidak mendukung, mendorong harga melonjak dua kali lipat.

Harga batu bara thermal di pelabutan Newcastle Australia, harga patokan di Asia, mencapai rekor tertingginya US$194,79 per ton pada 4 Juli, data globalCOAL NEWC Index.

Indonesia akan membuat harga patokan bulanan, dengan harga minumum untuk ekspor, kata Bambang pada 6 Agustus.

Harga patokan yang digunakan diberi nama Indonesian Coal Index atau global indexes. Batu bara yang memproduksi 4.200 kilo kalori untuk setiap kilogramnya seharga US$49,65 per ton. Batu bara yang memproduksi 5.000 kilo kalori seharga US$90,41 per ton pada minggu yang berakhir 1 Agustus 2008, menurut Indonesian Coal Index.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Badan Geologi segera berubah jadi LPND
  • BBM diduga turun lagi Februari 2009
  • 'Besaran penurunan harga solar tidak dipatok'
  • Irak akan bangun 4 kilang minyak
  • Harga solar bakal turun
  • Korsel kurangi impor minyak mentah
  • RI urutan ke-7 pemberi subsidi terbesar BBM
  • Produksi minyak dunia diprediksi turun
  • PLN jamin tidak ada defisit listrik pada 2009

Komentar

Beri Komentar