Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Telematika


Minggu, 25/11/2007 14:39 WIB

Menuju Pertanian Modern

oleh : Sita Supomo

Penduduk Indonesia mayoritas bekerja di sektor pertanian, namun sayangnya bisnis pertanian belum berkembang maksimal di negeri ini. Salah satu kuncinya adalah modernisasi sektor pertanian, antara lain melalui teknologi informasi.

Hal ini paling tidak telah dirintis oleh sekelompok petani di desa Cihideung Ilir di Bogor Barat dan desa Pancasari, Bedugul di Bali. Kelompok Rempug Tani di desa Cihideung Ilir beranggotakan 35 petani. Memanfaatkan fasilitas CTC (Communication Technology Center) yang ada di desa mereka - satu-satunya di lingkungan 12 desa di daerah Bogor Barat - Syaiful, 35, salah satu anggota Rempug Tani, menemukan bahwa bertanam padi legowo dan kacang tanah bibit unggul dapat meningkatkan pendapatan mereka.

"Saya terinspirasi oleh Pak Suhar, petani kacang dari Bojonegoro," cetusnya. Dalam sebuah forum, kedua petani bertemu, dan mengikuti jejak Suhar, Syaiful pun mulai belajar dari CTC di desanya - yang keberadaannya disponsori oleh Microsoft Indonesia. "Saya bertanya pada pelatih di CTC bagaimana caranya mengakses informasi di internet," kisah Syaiful. Di situs Pustaka Tani binaan IPB ia menemukan informasi yang dicarinya. "Segera saja saya ke petugas PPL untuk menanyakan lebih lanjut," cetusnya.

Beda lagi dengan para petani muda di desa Pancasari, Bedugul, Bali. Selangkah lebih maju dari rekan-rekannya di Cihideung Ilir, kelompok muda Tani Mandiri yang dipimpin I Wayan Kanten, 29, mulai menerapkan teknologi pertanian organik yaitu dengan membangun rumah kaca. "Kami berkerjasama dengan Yayasan Pertanian Organik Bali (YPOB) yang mendorong kami untuk berani membuka CTC yang dibantu oleh Microsoft," kisahnya. Melalui internet, mereka mendapat informasi tentang keuntungan bertanam paprika ketimbang stroberi yang biasa mereka andalkan - yang ternyata masih terbuka lebar pangsa pasarnya. "Dengan bantuan pinjaman modal berbungan ringan dari YPOB, kami mulai membangun rumah kaca dengan 6 anggota," jelas Kanten. Kelompok Tani Mandiri sendiri beranggotakan 12 petani, yang akan digilir agar semua bisa memiliki rumah kaca sendiri. Mereka rajin berseluncur di dunia maya, sehingga bukan saja metode penanaman paprika yang mereka temukan, bahkan juga calon pembelinya.

Dalam satu setengah tahun, 10 dari 12 anggota kelompok tani Mandiri sudah memiliki rumah kaca yang per satuannya menyerap modal dari Rp 25 hingga Rp 30 juta, untuk ukuran sekitar 400 meter persegi. Bukan hanya itu, kini ada 40 rumah kaca di desa Pancasari saja - jelas terinspirasi oleh kelompok muda Tani Mandiri.

Sayangnya, sektor pertanian - bahkan ketika telah dimodernisasi sekalipun - belum menarik minat penanam modal. "Kami telah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan pinjaman berbunga lunak. Kami mengajukan proposal ke bank maupun ke lembaga, namun tanpa hasil," kisah Kanten. "Sektor pertanian memang masih dinilai riskan bagi perbankan," jelas Joko, direktur YPOB, yang dalam hal ini bekerja sama dengan LSM lain yang berbasis di Jakarta, Yayasan Mitra Mandiri (YMM). "Sementara, kemampuan kami membantu mereka masih terbatas. Kami baru bisa mengucurkan bantuan pinjaman lunak sebesar Rp 150 juta ketika program ini berjalan, dan waktu itu hanya cukup untuk memberdayakan enam petani masing-masing dengan membangun satu rumah kaca," katanya lagi.

Masyarakat petani adalah salah satu yang disasar oleh program CTC dari Microsoft Indonesia. "Target kami adalah mempersempit kesenjangan digital di Indonesia. Dan mereka yang tidak mendapat akses adalah kaum marjinal seperti petani, nelayan dan usaha kecil menengah," cetus Tony Chen, direktur Microsoft Indonesia. Setelah berjalan selama sekitar 2 tahun, program ini telah membantu lebih dari 500 petani.

"Kami ingin sekali maju. Sekarang pun sudah, dibanding kehidupan kami dulu sewaktu masih bertani secara tradisional," kali ini kata I Ketut Wiryantara, 30. Dengan pangsa pasar paprika yang masih terbuka luas, sesungguhnya mereka sudah gemas menjemput peluang tersebut. "Produksi kami sementara ini hanya memasok kebutuhan Bali. Paprika kami pernah dinilai sebagai paprika terbaik oleh pemasok dari Jakarta dan Singapura, namun mereka menuntut suplai 100 ton per bulan. Kapasitas kami belum sampai apalagi kalau harus rutin," kata Kanten.

Begitu pula dengan kelompok di Cihideung Ilir. Mereka mendapat tawaran untuk memasok bibit unggul kacang tanah ke luar pulau Jawa. Namun, setelah dihitung, mereka membutuhkan suntikan modal sebesar Rp 150 juta. "Mungkin Anda berminat membantu?," kata pak Anwar, 67, Ketua Rempug Tani, dengan nada serius.

Meski perlahan, kesadaran bahwa sektor pertanian memiliki masa depan cerah kini mulai tumbuh di kalangan petani. "Saya inginnya kami bertani secara modern, seperti di luar negeri. Saya melihat satu website di Bogor, dan mereka sudah menerapkan sistem pertanian dan perikanan yang sangat modern. Kami ingin seperti itu," harap Kanten yang rajin mendorong anak-anak petani untuk tetap menggeluti sektor ini, dan tidak tergiur terjun ke sektor pariwisata di Denpasar.

Sementara pak Anwar - yang masih kesulitan untuk belajar komputing - berkilah usia lanjutnya sebagai penyebab. "Tapi kan anak-anak saya sudah pada bisa main komputer. Anak saya yang di SMA juga punya kelompok tani sendiri, dan dia bercita-cita menjadi petani dasi, bukan lagi petani daki seperti saya," katanya terkekeh.

Sita Supomo
Community Affairs Manager
PT Microsoft Indonesia
tpursita@microsoft.com

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Google akan jual iklan untuk NBC
  • DKI akan bangun 5 unit menara BTS
  • Microsoft turunkan harga Xbox 360
  • Telkom Jateng-DIY tambah kapasitas di Karimunjawa

Komentar

Beri Komentar