Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Telematika


Rabu, 12/12/2007 12:58 WIB

IT dan Pertanian

oleh : Sita Supomo

Menurut Ciputra, seorang pengusaha ternama, Indonesia masih memerlukan banyak wirausaha yang justru menciptakan lapangan kerja, bukan mencari. Dan konon, peluang ke arah sana cukup besar, karena dari sekitar 200 juta rakyat Indonesia, masih segelintir saja yang terjun menjadi wiraswasta.

Namun, seperti juga pemimpin, mungkin pertanyaan nya adalah: apakah wirausahawan itu dilahirkan atau dicetak? Naluri untuk merintis sebuah usaha, mengambil resiko, berpikir kreatif adalah sebuah kualitas yang istimewa. Kebanyakan orang cenderung mencari jalan yang aman. Seorang wiraswasta sejati, harus berani melangkah ke area-area dimana kebanyakan orang justru enggan.

Suryadi, 35, adalah contoh yang inspiratif. Kenyang hidup pas-pasan sebagai petani garap, kemaunannya untuk maju timbul ketika CTC (Community Technology Center) dibuka di desanya, desa Cengungklung, Bojonegoro, Jawa Timur. Motivasinya tunggal: ingin mencari informasi tentang pertanian.

"Sewaktu baru belajar, saya gemetaran. Takut komputernya meledak," katanya terbahak. Namun, setelah dua bulan kursus, ia sudah rajin berseluncur di dunia maya, mencari informasi tentang pertanian. Gara-gara sering mencari di Google, iapun belajar tentang manfaat bunga roselia - yang akhirnya ia tanam di seperempat bagian dari lahan tidur miliknya.

Penghasilannya pun meningkat, karena bunga roselia bisa mencapai Rp 60,000 per kilo, dan Rp 50,000 untuk bibitnya. Ia menunjuk Imam, pendiri dan ketua CTC, sebagai orang yang berjasa membinanya. Dengan inovasi sederhana, ia bisa membuat cetak sablon di atas pola yang ia buat dengan program MS Word.

"Tapi hasil sablonnya tidak bagus, saya sempat merugi," kisahnya. Namun, disitulah letak naluri kewiraswastaannya. Suryadi yang menikah dan beranak dua justru penasaran, dan mulai belajar aplikasi Photo Shop dan Corel Draw. Ia pun mulai meladeni pesanan cetakan untuk keperluan Pilkades.

Selama enam bulan, ia "mencicil" membeli komputer sendiri. "Pertama saya beli CPU nya, lalu keyboardnya, baru monitornya," katanya tersipu. Kini, berkat usaha tani dan percetakannya - Suryadi bahkan belajar mengedit video - anaknya tidak jadi putus sekolah. "Anak saya melanjutkan ke SMA," katanya bangga.

Sementara di Samarinda, dua pemuda mencoba lari dari kemiskinan yang mencekik di daerah asal mereka di Nganjuk, juga Jawa Timur. Suprapto, 28, dan Agus Widayat, 23, awalnya berkerja serabutan di tanah seberang, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha tempe-tahu kecil-kecilan.

"Kami mengerjakan semuanya, mulai dari belanja bahan, membuat hingga memasarkan. Toh produksi kami masih sedikit," kata Agus. Per harinya ia memproduksi Suprapto memproduksi 40 kg temped an 2-3 kaleng tahu (satu kalengnya sekitar 6 kg). Sementara Agus menghasilkan 12 kg tempe dan 12-18 kg tahu.

Enggan menyebut persis penghasilan mereka, secara perlahan kehidupan mereka pun membaik. "Pokoknya lebih baik daripada waktu di Jawa," kata Agus. Di Samarinda, mereka menyewa rumah kayu yang terlihat masih baru dibangun. Rumah itu nyaris kosong dari perabot, namun bersih dan berada di daerah desa yang makmur.

Mereka berdua juga belajar mengoperasikan komputer di CTC Garis Tepi, Samarinda. "Sekarang belum merasakan manfaatnya secara langsung, tapi saya jadi senang ke warnet mencari informasi di internet" kata Agus. Di warnet, ia sering bertukar pengetahuan dengan teman-teman di sana. "Suatu saat, pasti ada manfaatnya. Saya yakin itu," katanya tandas.

Sementara itu, di ibukota propinsi Jawa Timur, Surabaya, naluri kewirausahaanlah yang menyelamatkan fasilitas umum CTC yang nyaris ditutup. Cak Arif - seorang pengusaha UKM - mengambil alih CTC yang sebelumnya dikelola Forda Jatim. Sadar berada di lingkungan UKM, iapun berusaha keras berpikir seperti mereka.

"Kami memperkenalkan bermacam-macam promosi di warnet kami agar menarik langganan. Misalnya, harga diturunkan, dan memperkenalkan program paket murah bahkan juga yang berhadiah," kata Cak Arif, berbagi tips. Sedangkan kursus komputing yang menjadi menu utama banyak CTC, ia modifikasi sesuai dengan kebutuhan para pengusaha UKM.

"Jadi kami bukan hanya menawarkan kursus program komputing yang mendasar saja seperti MS Word dan Excel, tapi juga kursus membuat brosur, maupun menjalankan transaksi online," jelasnya. Ia juga menerapkan kalkulasi bisnis yang ketat dalam menjalankan CTC. Hasilnya? Kini mereka bisa mandiri - tanpa subsidi - dan sanggup membayar kontrakan di tempat strategis dengan sewa Rp 2 juta per bulan.

"Kreativitas dan teladan dari mereka yang berani melangkah lebih dulu," ujar Sita Purnami dari Microsoft Indonesia, tentang kunci keberhasilan beberapa konstituen yang dibinanya lewat program CTC. Bermitra dengan ASEAN Foundation, Microsoft Indonesia kini mengelola sekitar 40 CTC di 12 propinsi. "Belajar suatu teknologi baru bagi mereka kan tidak mudah. Butuh keberanian dan motivasi," simpulnya.

Sita Supomo
Community Affairs Manager
PT Microsoft Indonesia

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Laba China Mobile naik 51%
  • Tarif murah dorong persaingan seluler Jawa Bali
  • Qtel mungkin hanya ganti komisaris Indosat
  • SP Indosat gelar aksi damai besok
  • Indosat gelar sensasi mudik
  • Indosat wilayah EJBN tambah 600 BTS
  • DPRD restui Pemprov Jateng lepas saham di SMT
  • KPI akan tetapkan pedoman penyiaran
  • 4 Tayangan di TV langgar ketentuan

Komentar

Beri Komentar