Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Telematika


Selasa, 04/03/2008 13:23 WIB

Microsoft upayakan portabilitas data

oleh : Deriz S. Syarief

SINGAPURA (Bisnis): Salah satu upaya raksasa peranti lunak Microsoft dalam mewujudkan interoperabilitas teknologinya dengan vendor lain adalah mempromosikan portabilitas data melalui tiga langkah.

Brad Smith, Senior Vice President dan General Counsel Microsoft Corp, memaparkan ketiga langkah itu yakni menciptakan format terbuka, memungkinkan ekspor dan impor data dan dukungan arsitektur teknologi.

"Interoperabilitas ini sangat penting karena peranti komputasi, peranti lunak dan layanan yang digunakan konsumen semakin berkembang dan banyak ragamnya. Industri [TI] menjadi sangat heterogen," katanya berbicara dalam Regional Innovation Forum 2008 pagi ini.

Dalam hal format data, lanjut Brad, Microsoft telah membuka dokumen teknis berkaitan dengan format data yang digunakan perusahan peranti lunak tersebut. Dokumen yang dilindungi peraturan rahasia dagang dan sebelumnya tertutup itu kini bisa dipelajari siapa pun termasuk pengembang open sourcce sehingga memungkinkan pertukaran data.

Langkah mewujudkan interoperabilitas selanjutnya adalah memungkinkan impor dan ekspor file dalam format yang berbeda-beda. "Produk kami bisa membaca data dari produk lain, demikian pula sebaliknya. Kemudian produk kami bisa menyimpan file dengan format produk lain, dan senaliknya," tutur Brad.

Interoperabilitas juga dicapai dengan merancang arsitektur yang mendukung aneka format produk lain, salah satunya melalui teknologi plug-in Microsoft. Plug-in secara umum adalah komponen aksesoris pada peranti lunak yang dapat menjalankan fungsi tertentu, dalam hal ini bertukar data.

Busines Software Alliance (BSA) kembali menyelenggarakan Regional Innovation Forum 2008 dengan fokus tema pada daya saing dan kebijakan publik di sektor TI, serta penanggulangan cybercrime. Kegiatan seminar dan diskusi panel ini diikuti oleh lebih dari 100 delegasi yang mewakili industri peranti lunak, instansi pemerintah, penegak hukum, perguruan tinggi dan praktisi HaKI dari sejumlah negara di kawasan Asia.

Delegasi Indonesia beranggotakan delapan orang dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perindustrian, Kementrian Riset dan Teknologi termasuk Badan Penkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Forum ini adalah tempat berbagi dan bertukar ide dengan mengumpulkan delegasi dengan latar belakang yang berbeda-beda sehingga membawa keragaman perspektif," kata Robert Holleyman, President & CEO Business Software Alliance (BSA) dalam pidato pembukaan pagi ini.

Tema pertama akan membahas faktor-faktor yang penting untuk menumbuhkan dan menciptakan daya saing sektor teknologi informasi. Tema kedua mendiskusikan bagaimana peran kebijakan publik dalam mempromosikan ketersediaan pilihan teknologi bisa mendorong industri ini, khususnya peranti lunak. Tema ketiga berbicara mengenai penanggulangan cybercrime dan faktor-faktir untuk menciptakan industri teknologi informasi yang berkelanjutan.

"Ini saatnya negara-negara Asia berbicara. Posisi Asia semakin penting karena menjadi mesin pendorong pertumbuhan di sektor teknologi dan ekonomi," ujar Geoffrey Yu, Deputy Chairman, IP (Intelectual Property) Academy Singapura.

Pembicara dalam Regional Innovation Forum 2008 ini antara lain berasal dari Microsoft, Washington University School of Law, Economist Intelligence Unit, BSA dan instansi pemerintah Malaysia, Taiwan, Singapura dan Filipina. BSA adalah organisasi anti-pembajakan dunia yang beranggotakan perusahaan-perusahaan peranti lunak, didirikan pada 1998 dengan kantor perwakilan di 80 negara.(dss)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Laba China Mobile naik 51%
  • Tarif murah dorong persaingan seluler Jawa Bali
  • Qtel mungkin hanya ganti komisaris Indosat
  • SP Indosat gelar aksi damai besok
  • Indosat gelar sensasi mudik
  • Indosat wilayah EJBN tambah 600 BTS
  • DPRD restui Pemprov Jateng lepas saham di SMT
  • KPI akan tetapkan pedoman penyiaran
  • 4 Tayangan di TV langgar ketentuan

Komentar

Beri Komentar