Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Telematika


Sabtu, 29/03/2008 03:52 WIB

Dari satu tumbuh 40 rumah kaca

oleh : Sita Supomo, Community Affairs Manager, PT Microsoft Indonesia

Tiga petani muda dari desa Pancasari, Bedugul, Bali, memang sudah bak selebriti lokal. Foto mereka - tertawa bahagia sambil memperlihatkan paprika yang ranum - terpampang di mana-mana, termasuk di banner vertikal yang dipasang di pintu masuk CTC Pancasari. Sebagai ikon keberhasilan desa, mereka pun sudah kerap diwawancarai wartawan.

Buku tamu mereka pun penuh dengan nama-nama yang datang dari jauh, kebanyakan ingin melihat dan belajar dari keberhasilan mereka membudidayakan paprika lewat teknik rumah kaca. "Ada Walikota Bali, lalu ada juga Menteri Pertanian dari Timor Timur," jelas I Wayan Kanten, Ketua Kelompok Tani Muda Mandiri, sambil mengingat-ingat nama-nama mereka. "Kadang mereka tahu-tahu sudah ada di pintu saja, jadi ya harus dilayani dengan baik."

 Di antara tamu yang tertarik dan serius bertanya adalah seorang dokter yang berdomisili di Jakarta. "Eh sekarang beliau malah punya empat rumah kaca di sini, cepat sekali berkembangnya karena modalnya kuat," kata I Wayan Kanten.

Selain pendatang, mereka juga menginspirasi petani-petani di desa mereka. Dalam tempo sekitar 1,5 tahun, desa Pancasari sudah memiliki 40 rumah kaca - rata-rata tergiur oleh keberhasilan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Muda Mandiri dimana ketiganya aktif berkiprah.

"Dari 12 anggota, kini sudah 10 yang punya rumah kaca, antara satu hingga lima buah. Sisanya ya penduduk di sini, dan dokter tadi itu," I Ketut Wiryantara, rekannya.

Ketika ditanya mengapa tidak menarik biaya konsultasi kepada mereka yang datang, ketiganya hanya tertawa. "Aduh, mana bisa begitu? Mereka kan datang sebagai tamu, ya tidak enaklah. Tetap harus disambut dan dilayani." Ketiganya memang bertekad untuk menjadi petani maju yang menerapkan cara kerja yang modern.

"Kami tidak ingin anak-anak muda di sini tergiur berkerja di sektor pariwisata. Kami ingin membuktikan pada mereka kalau jadi petani juga bisa kaya - positif prospeknya," kata I Wayan Kanten lagi. I Ketut Wiryantara dan Kadek Baktiyasa, dua dari tiga serangkai itu, dulu sempat berkerja di sektor pariwisata dan belajar dari pengalaman pahit ketika sektor tersebut mengalami krisis setelah terjadinya bom Bali.

VISI ANAK-ANAK PETANI PANCASARI

Selain para petani di Desa Pancasari, CTC Kelompok Tani Muda Mandiri juga didatangi oleh siswa-siswa sekolah - dari SD hingga SMA. Mereka umumnya anak-anak petani di sekitar desa. Para pelatih paling senang mendidik anak-anak ini. "Merekalah yang paling mudah diajar. Baru sebentar, sudah mengerti. Orangtuanya malah, aduh, susah sekali," cetus I Wayan Kanten sambil terbahak.

Soerang anak petani yang sedang belajar di CTC ketika kami berkunjung adalah murid SMP yang tak jauh dari CTC. "Ia bercita-cita ingin masuk SMK Informatika nanti, mangkanya rajin berlatih di sini," cetus I Wayan Kanten. Seorang lainnya menuntut SMK yang baru saja berdiri di desa Pancasari. "Karena baru, jadi belum punya komputer," cetus I Wayan Kanten.

Menurutnya lagi, sekolah-sekolah di sekitar desa Pancasari sudah diwajibkan untuk menerapkan komputer sebagai bagian dari kurikulum mereka. Sayangnya, fasilitas komputer masih terbatas, sehingga tidak jarang seorang siswa hanya kebagian latihan sekali sebulan karena harus mengantri. "Kadang satu komputer dipakai lima orang, jadi belajarnya tidak intensif," tambah I Wayan Kanten.

Di CTC, mereka belajar program Microsoft Office, mulai dari aplikasi Word dan Excel. Para pelatih merancang program yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Misalnya, program Excel dirancang sedemikian rupa sehingga hitung-hitunganya berkisar seputar hitungan pertanian. "Misalnya bagaimana mengkalkulasi untug rugi jika ingin menanam sawi," sahut I Ketut Wiryantara, yang juga pelatih di sana.

Karena itu, salah satu strategi CTC Pancasari yang sedang digodok adalah bagaimana merangkul para sekolah ini agar mengirimkan murid-muridnya belajar di CTC.

"Dengan begitu, kami punya pendapatan yang tetap, dan sekolah pun terbantu. Jadi sama-sama untung," tambah I Wayan Kanten, optimis kalau gagasannya akan ditanggapi positif.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Google akan jual iklan untuk NBC
  • DKI akan bangun 5 unit menara BTS
  • Microsoft turunkan harga Xbox 360
  • Telkom Jateng-DIY tambah kapasitas di Karimunjawa

Komentar

Beri Komentar