Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Telematika


Rabu, 20/08/2008 17:19 WIB

DPRD restui Pemprov Jateng lepas saham di SMT

oleh : Imung Yuniardi

SEMARANG (Bisnis.com): DPRD Jateng siap merestui rencana pelepasan saham Pemprov Jateng pada Starone Mitra Telekomunikasi (SMT) kepada investor maupun publik yang berminat, guna menghindari risiko kerugian yang lebih besar.

Anggota Komisi C (Bidang Keuangan) DPRD Jateng Muhadjir M. Ardian mengatakan tidak mempermasalahkan rencana pelepasan saham pemprov tersebut sepanjang diperhitungkan risiko bisnisnya.

"Yang penting aspek bisnisnya benar-benar matang. Dengan melepas kita bisa untung atau setidaknya terhindar dari kerugian yang lebih dalam," katanya kepada Bisnis, hari ini.

Pemprov Jateng melalui PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) menguasai 20% saham pada SMT senilai Rp30 miliar sejak 2006. Seperti diketahui, SMT adalah anak perusahaan Indosat yang bergerak di bidang operator penyedia layanan telekomunikasi CDMA di Jawa Tengah dan DIY (Jagoan).

Muhadjir mengakui persoalan penyertaan saham SPJT di anak perusahaan Indosat tersebut memang belum pernah dibahas secara mendalam di Komisi C. Alasannya, fokus utama pendirian SPJT adalah pada tiga bisnis utama yaitu jalan tol Semarang-Solo, eksploitasi Blok Cepu, dan perpanjangan landasan Bandara A. Yani.

Menurut dia, penyertaan saham di luar tiga bisnis utama bisa dikategorikan sebagai bisnis sampingan. Semua hasil bisnis sampingan yang dilakukan SPJT tujuannya tetap untuk supporting bisnis utamanya. Artinya, lanjutnya, bila keputusannya jadi dilepas, kelak dana segar hasil penjualan saham tetap diprioritaskan untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo atau eksploitasi Blok Cepu.

Namun, Muhadjir belum akan meminta keterangan SPJT dalam waktu dekat karena masih banyak agenda Komisi C yang belum terlaksana.

Djuwarso, Direktur SPJT, mengakui penyertaan saham di SMT sebenarnya merupakan bisnis jangka panjang. "Prognosa awal saat mulai bergabung bersama SMT 2006, pada 2008-2009 bisa mulai untung. Tetapi karena banyaknya investasi yang perlu dilakukan agar bisa bersaing dengan kompetitor yang makin banyak, jadi prognosa itu sulit tercapai,” jelasnya.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • KPPU mulai teliti dugaan monopoli frekuensi MNC
  • E-commerce dari Indonesia tumbuh 80%
  • Kliring telekomunikasi tertunda masalah hukum
  • Pemerintah belum tunjuk Telkom sebagai pelaksana USO

Komentar

Beri Komentar