Indonesia kekurangan tenaga profesi peneliti

Rabu, 02/12/2009 15:36:05 WIBOleh: Rahmayulis Saleh
JAKARTA (bisnis.com): Indonesia masih kekurangan tenaga profesi peneliti yang hingga saat ini baru mencapai 4,7 peneliti per 10.000 penduduk, sementara di Jepang sudah mencapai 70,7/10.000 penduduk.

"Padahal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan cerminan majunya suatu bangsa. Indonesia masih diurutan 60 dari 72 negara yang dinilai Science &Technology Achievment Index-nya," ujar Kepala BPPT Marzan A. Iskanda hari ini di sela-sela pengukuhan profesor riset.

Menurut dia, masih rendahnya capaian indeks iptek itu a.l. diindikasikan dengan rendahnya aplikasi paten, publikasi dan jumlah peneliti.

Saat ini, katanya, BPPT mempunyai 2.838 pegawai, 35,9% di antaranya pejabat fungsional. Khusus untuk pejabat fungsional peneliti tahun ini tercatat 253 orang, atau sekitar 24,8%.

"Dari 253 peneliti tersebut, BPPT baru memiliki profesor riset 19 orang. Ditambah yang dikukuhkan hari ini sebanyak 3 orang, jadi sekarang jumlahnya mencapai 22 orang," ujar Marzan.

Profesor riset, katanya, adalah puncak karir jabatan fungsional pada peneliti. Pengangkatan seorang peneliti utama menjadi profesor riset merupakan pengakuan, penghormatan, kepercayaan tertinggi terhadap keberhasilan seseorang dalam mengemban tugas penelitian.

Ketiga profesor riset yang baru dikukuhkan tersebut adalah Netty Widyastuti dari Bidang Biologi Pertanian, M. Ikhwanuddin Mawardi dari Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah, dan Kardono dari Bidang Lingkungan. (tw)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika