Program Rusnas kembali dilanjutkan tahun depan

Rabu, 30/12/2009 18:42:31 WIBOleh: Rahmayulis Saleh
JAKARTA (Bisnis.com): Kementerian Negara Riset dan Teknologi akan melanjutkan Program Riset Unggulan Nasional (Rusnas) tahun depan, yang sudah dilakukannya sejak 10 tahun lalu.

"Selama ini secara bertahap Kantor Ristek sudah mendukung delapan topik Rusnas, dengan dana sekitar Rp124 miliar," kata Menristek Suharna Surapranata hari ini.

Dia menuturkan hasil Program Rusnas yang telah dicapai a.l. dalam bentuk varietas buah tropis (nanas, manggis, pepaya, dan pisang). Selain itu, standard operating procedure (SOP) produksi buah, desain dan prototip bidang TI dan mikroelektronika, bibit kerapu fenotip F2, vaksin dan pakan kerapu, surfaktan berbasis kelapa sawit, dan produk-produk diversifikasi pangan.

Pada penghujung tahun ini, Ristek meluncurkan Buku Rusnas sebagai sarana dokumentasi, pertanggungjawaban, dan akuntabilitas publik dari lembaga ini. Buku itu disusun berdasarkan materi pokok yang diterima dari masing-masing lembaga pengelola Rusnas.

Program ini dicetuskan pertama kali pada 2000, yang ditandai dengan pembiayaan tiga buah topik Rusnas, yaitu bidang TI dan Mikroelektronika dengan lembaga pengelolanya ITB, Buah Unggulan Tropis dengan lembaga pengelola IPB, dan Budidaya Ikan Kerapu dengan lembaga pengelola BPPT.

Dalam 2 tahun perjalanannya, katanya, Ristek menetapkan tiga topik tambahan yaitu Rusnas Industri Kelapa Sawit dengan lembaga pengelola IPB, Rusnas Diversifikasi Pangan dengan lembaga pengelola IPB, dan Pengembangan Engine Aluminium Paduan dengan lembaga pengelola BPPT.

Pada 2006, ditambah lagi 2 topik baru, yaitu Rusnas pengembangan energi baru dengan lembaga pengelola Universitas Sriwijaya Palembang, dan Rusnas pengembangan industri sapi dengan lembaga pengelola Universitas Brawijaya Malang.

Contonya hasil riset ekstrak temu ireng  dan temu lawak, mampu mengatasi penyakit cacingan pada sapi, bahkan bisa menambah bobot badan sapi potong hingga 45%, dan meningkatkan produk susu sapi perah sampai 16,2%.

Menurut Prof. Ifar Subagiyo, Kordinator penelitian pengembangan industri sapi dari Unibraw, hampir 100% sapi di peternakan Indonesia menderita cacingan.

"Hal itu menyebabkan produktivitas sapi jadi rendah. Jamu yang diberikan adalah Kaplet Herbal Antihelmentik Ca-Cx dan bisa mengatasinya," kata Ifar di sela-sela acara pertanggungjawaban dana Program Rusnas hari ini.

Dia menuturkan ekstraksi temu ireng dan temu lawak, dicampur dengan bahan baku lainnya ini, masih dalam proses paten. Sudah diujicobakan di peternakan Gabungan Koperasi Susu Indonesia(GKSI) di Koperasi Susu Lembang dan Malang, serta Koperasi Susu Sapi Perah Setia Kawan.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika