
JAKARTA (Bisnis.com): Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Kelautan dan Atmosfir (NOAA) Amerika Serikat melakukan kerja sama ilmu dan teknologi di wilayah Indonesia, termasuk eksplorasi laut dalam 5 tahun ke depan.
Untuk tahap awal, pada Juni 2010 Kapal Riset Okeanos Explorer milik NOAA didampingi oleh Kapal Baruna Jaya IV milik BPPT akan melakukan eksplorasi kelautan di Sangir Talaud, Sulawesi Utara.
"Kedua kapal tersebut nanti melakukan ekspedisi penelitian terhadap kekayaan alam laut di Sangir Talaud, yang selama ini belum pernah dilakukan," kata Kepala BPPT Marzan A. Iskandar saat menemani Jane Lubchenco, Wakil Menteri Perdagangan Bidang Kelautan dan Atmosfer yang juga Ketua NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) di atas Kapal Baruna Jaya IV di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, hari ini.
Marzan menuturkan kedua kapal tersebut akan membawa sejumlah pakar kelautan, oceanologist dan ahli biologi, serta ilmuwan lainnya dari kedua negara untuk meneliti kekayaan alam laut di Sangir Talaud.
Jane Lubchenco yang meninjau Baruna Jaya IV dan merupakan kunjungan balasan setelah kedatangan Kepala BPPT dan rombongan ke NOAA di AS Juli 2009, menuturkan bahwa Kapal Okeanos dilengkapi dengan peralatan telepresent Remote Operation Vehicle (ROV).
Melalui alat ROV tersebut, apa yang direkam oleh peneliti di bawah laut bisa langsung dipantau dan diikuti oleh mahasiswa, pelajar atau ilmuwan di darat melalui televisi. "Mereka bisa langsung berdialog dan teleconference," ujar Jane yang juga menyampaikan bahwa pemerintahan Barack Obama dengan senang hati membantu penelitian tersebut.
"Hasil riset teknologi di Sangir Talaud nanti bisa dipakai oleh masyarakat dunia lainnya, bebas dan terbuka. Bukan hanya untuk kepentingan Indonesia saja. Karena bisa jadi akan ditemukan berbagai biota laut lainnya yang belum ada, dan hal itu bisa untuk dipelajari bersama," lanjut perempuan yang merupakan Kepala NOAA ke-9 ini dan juga salah seorang ahli ekologi kelautan dan ilmuwan lingkungan hidup terkemuka di dunia.
Gelwynn Jusuf, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, menuturkan untuk penelitian pada Juni mendatang akan memakan waktu sekitar 40 hari.
Jana T. Anggadiredja, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, mengatakan salah satu program prioritas kerja sama tersebut adalah perlindungan lingkungan dan pengurangan risiko bencana, termasuk mitigasi bencana akibat perubahan iklim global.
Kerja sama dengan NOAA ini, kata Jana, sudah sejak lama dilakukan, terutama dalam bidang teknologi Buoy Tsunami, instrumentasi observasi kelautan, serta aplikasi data interaksi kelautan dan atmosfer. "Untuk program kerja sama riset tahun-tahun berikutnya, belum ditentukan wilayah penelitiannya. Nanti akan ada rapat khusus untuk itu," tambah Jana.(er)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »