BEIJING: Foto-foto astronot mengibarkan bendera nasional menjadi gambar utama di halaman satu semua koran di China hari ini, suatu bentuk perayaan atas keberhasilan astronot China jalan-jalan di ruang angkasa. Ini merupakan langkah awal dari eksplorasi lanjutan di bidang yang selama ini dikuasai AS dan Rusia.
Misi yang dipimpin oleh komandan Zhai Zhigang itu mengudara pada Kamis lalu, dan diperkirakan kembali ke bumi pada hari ini (Minggu).
Jalan-jalan di angkasa luar yang terjadi pasa Sabtu itu disiarkan secara live oleh seluruh stasion televisi di China dan ditampilkan di layar-layar raksasa di seluruh negeri bagi penonton di lapangan. Satu lagi momen kebanggaan bangsa China setelah sukses menyelenggarakan Olympiade Beijing beberapa waktu lalu, tulis AP.
“Sebuah langkah kecil oleh Zhai Zhigang di luar ruang angkasa merupakan langkah besar dalam sejarah kebangsaan China,” komentar dari kantor berita resmi Xinhua, seperti dikutip oleh koran Beijing Daily.
“Langkah historis itu menunjukkan suatu kekuatan yang terakumulsi sejak reformasi dan keterbukaan,” lanjut artikel itu, menunjuk pada tekad China untuk melaksanakan reformasi pasar terbuka sekitar 30 tahun lalu.
Koran-koranChina menampilkan gambar-gambar Zhai yang sedang memegang bendera China ketika dia keluar dari kendaraan Shenzhou, dan juga foto-foto dari Presiden Hu Jintao yang sedang menelepon para astronot.
“Jejak kaki pertama warga China telah ditinggalkan di luar ruang angkasa,” kata China Youth Daily.
Jalan-jalan di luar ruang angkasa membutuhkan pakaian khusus, yang disebut Feitian, sebagaimana yang dipakai oleh astronot Zhai. Pakaian buatan China itu, yang harganya US$4,4 juta, menunjukkan keberhasilan China menguasai teknologi canggih untuk pakaian tersebut.
Astronot lainnya kelihatannya memakai pakaian yang mirip dengan Orlan, buatan Rusia, tulis media setempat.
Kini terbuka bagi China untuk membangun stasiun luar ruang angkasa dari dua modul orbit Shenzhou, yang merupakan tujuan besar China lainnya dalam program penerbangan ruang angkasa.
China juga merencanakan eksplorasi bulan dan mungkin mengirimkan orang ke sana pada dekade mendatang—mungkin juga sebelum target NASA mengirimkan kembali orang ke bulan pada 2020.
Beijing meluncurkan misi berawak pertama, Shenzhou 5, pada 2003, yang menjadikannya negara ketiga setelah Rusia dan AS yang mengirimkan manusia ke ruang angkasa. Hal itu diikuti oleh dua missi berawak pada 2005.
Selain menantang Rusia dan AS, China juga menghadapi persaingan dengan raksasa Asia lainnya, yakni Jepang dan India, yang juga sangat berminat mengirimkan manusia ke ruang angkasa.
Dengan program tersebut, China juga ingin memperbesar pangsa pasarnya dalam bisnis peluncuran satelit komersial. (lt)