Bisnis Indonesia Online » Senggang » Seni & Budaya


Rabu, 14/05/2008 11:42 WIB

'Protes atas film ML adalah pembunuhan karakter'

oleh : S. Hadysusanto

JAKARTA (bisnis.com): Banyaknya protes terhadap film bertajuk ML (Mau Lagi) garapan sutradara Thomas Nawilis yang diproduksi Indika Entertainment tanpa terlebih dahulu menyaksikan filmnya dinilai sebagai pembunuhan karakter insan perfilman.

Shankar, Produser ML, mengatakan sangat kurang bijaksana jika protes dilakukan tanpa terlebih dahulu melihat filmnya secara utuh. Apalagi, kata dia, referensi atas protes tersebut berangkat dari tayangan Internet dan buku novel dengan judul yang sama.

"Bahasa buku dan film sangat berbeda. Justru film saya bercerita tentang dampak buruk yang sangat mengkhawatirkan terhadap generasi muda negeri ini akibat kebebasan seks," kata dia kepada Bisnis, pagi tadi.

Film ML, lanjut dia, tidak berbicara mengenai pelecehan terhadap perempuan dan seks bebas, melainkan justru sebaliknya, yaitu memberi pendidikan tentang arti seks itu sendiri serta dampak kebebasan yang saat ini banyak dilakukan anak muda di seluruh dunia.

Dalam konteks protes yang dilakukan sejumlah lembaga kemasyarakatan Muslim serta imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menolak peredaran film ML, Shankar tidak menyesalinya. Dia menilai hal itu adalah sesuatu yang wajar. Namun demikian dia juga berharap agar jangan sampai vonis dijatuhkan tanpa melihat inti persoalan yang sebenarnya.

Shankar mengaku tidak mengerti secara persis mengapa potongan-potongan film yang notabene adalah gambaran pendidikan seks buruk sampai ke jaringan internet. Menurut dia, kemungkinannya banyak, a.l. terjadi ketika processing di luar negeri atau di badan film lainnya yang terkait dengan proses final film ML.(er)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • 100 Musisi ikuti A Mild Live Soundrenailine
  • Heinz & Sampoerna bantu WO Bharata
  • Gigi dan Ungu garap konsep musik bersama
  • Irene siap masuk dapur rekaman

Komentar

Beri Komentar