Bisnis Indonesia Online » Senggang » Seni & Budaya
Selasa, 19/08/2008 18:57 WIB
Inul 'merdeka' di Kuala Lumpur
oleh : Fahmi Achmad
Suasana di Jalan U Thant, Kuala Lumpur, tidak seperti biasa yang lenggang pada pada pukul 8 pagi hari Minggu itu. Di ujung jalan memang tampak beberapa kertas karton petunjuk arah tempat pesta kawinan, tapi bukan itu yang membedakan.
Mobil-mobil dan sejumlah motor terlihat parkir di depan rumah besar bernomor 23 dan antrean orang pun terlihat ketika memasuki gerbang yang dijaga sejumlah pria berpakaian safari.
Saya bersama rekan wartawan foto dari Antara dan staf Bank Muamalat Indonesia serta M. Faisal (Dekan Fakultas Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah) ikut antre memasuki Wisma Duta, tempat tinggal Dubes RI untuk Malaysia Da’i Bachtiar.
Di dalam gedung, ternyata ratusan orang sudah memasuki taman maupun lapangan kecil yang ada tiang benderanya. Puluhan orang duduk di dalam tenda serta beberapa stand tempat Western Union, Digi, Bank Syariah Mandiri dan lainnya menawarkan produk.
Tak sampai setengah jam, gerbang masuk Wisma Duta semakin sesak dan beragam orang, baik yang datang perorangan, berdua, satu keluarga, rombongan tur perwakilan Bank Negara Indonesia (BNI) hingga pekerja migran Indonesia yang hadir dengan setelan pakaian merah putih.
Sehari sebelumnya, kami bertemu dengan Da’i Bachtiar di Hotel Impiana KLCC dan beliau meminta kami hadir untuk upacara 17 Agustus. Jadilah kami termasuk dalam sekitar lebih dari 1.000 orang yang berpekik merdeka di Wisma Duta.
Tepat pukul 9.30 waktu Kuala Lumpur, Dai Bachtiar memulai upacara bendera. Protokol sebelumnya meminta seluruh peserta untuk ‘mengangkat tangan’ ketika penghormatan inspektur upacara, bendera hingga panji kehormatan. Lucunya, para peserta betul-betul mengangkat tangan ke atas bukannya gaya hormat militer. Sadar instruksi tak jalan, sang protokol pun mengumumkan kembali aturan hormat dengan tangan di dekat pelipis kanan.
Pasukan upacara diisi staf KBRI, pelajar, tokoh masyarakat dan kelompok perwakilan pekerja Indonesia di Malaysia. Komandan upacara kali ini adalah Letkol Inf Syafril kelahiran 18 September 1967 dan lulusan Akmil 1990, mantan Komandan Batalyon Infantri 365 Kostrad yang tengah mengikuti pendidikan Maktab Tentara Diraja Malaysia Angkatan 35.
Upacara pun berlangsung tertib dan Sang Saka pun dikibarkan anak-anak pelajar Indonesia, lagu Indonesia Raya dikumandangkan petugas upacara dan diikuti masyarakat yang turut hadir. Syahdu dan lumayan menggetarkan hati serta menggugah nasionalisme. Nuansa kebangsaan memang mengental.
Atribut masyarakat dan pekerja Indonesia di Malaysia tak hanya kostum merah-putih. Pipi mereka pun ditempeli bendera kecil. Bahkan Heriyanto salah satu pekerja migran membawa kaos pebulutangkis Markis Kido, pasangan Hendra Setiawan yang merebut medali emas Olimpiade Beijing. Prestasi Markis Kido dan Hendra Setiawan meraih medali emas Olimpiade Beijing seakan menutupi kegusaran publik Indonesia karena Sony Kurniawan ‘ditewaskan’ Lee Chong Wei, sesuatu yang dibanggakan publik Malaysia.
Selaku Duta Besar, Da’i Bachtiar dalam sambutannya mengatakan masyarakat Indonesia merupakan bangsa yang bermartabat. Di Malaysia, orang Indonesia punya arti penting bagi pembangunan. Di Malaysia, ujarnya, terdapat sekitar dua juta penduduk Indonesia yang terdiri dari 1,2 juta pekerja migran, 14.000 pelajar dan mahasiswa, serta 5.000 ekspatriat serta sekitar 600.000 pekerja migran ilegal.
Tapi, urusan pekerja migran dan sejumlah persoalan pidana dan perdata WNI berhasil diselesaikan beberapa peguam (pengacara) Malaysia. Sebanyak tiga peguam mendapatkan penghargaan dari pemerintah Indonesia. Begitu pula sejumlah staf KBRI di Kuala Lumpur. Tepat pukul 10.30, upacara selesai, dan salam-salaman serta silahturahim dimulai. Acara foto-foto dan piknik kecil pun tak ketinggalan.
Pihak Kedubes RI menyediakan kupon makanan dan minuman. Hip-hip hura dan pekik merdeka lima kali. Itu baru permulaan kemeriahan. Dentaman drum dan raungan gitar listrik langsung terdengar di panggung musik yang berada di samping gedung utama. Orang pun merapat ke panggung.
Kehebohan muncul karena penyanyi dangdut Inul Daratista akhirnya bisa “goyang ngebor” di Malaysia. Di Impiana Hotel, pak Dubes sudah memberitahukan akan kehadiran Inul. Inul sebelumnya dilarang konser di Johor Bahru dan Kuala Lumpur. Tapi kali ini, lagu berjudul ‘SMS’, ‘Ketahuan-Matta Band’ langsung membuat penonton berjoget dan bergoyang.
Tapi salah satu pekerja migran Indonesia, sebut saja Siti, mengaku tak terlalu berminat dengan Inul. Dia hadir bersama 37 rekannya. "Dari kilang kami sebenarnya 50 orang tapi yang datang 38," ujarnya ketika saya menanyakan sikapnya yang tak antusias dengan kehebohan panggung.
Da`i mengatakan dengan penampilan Inul di Wisma Duta yang masih wilayah dari Indonesia bukanlah untuk protes dan menentang larangan konser Inul oleh pemerintah setempat Malaysia. "Inul tidak dilarang di Malaysia hanya aspek keamanan saja yang menjadi alasan Inul konsernya dilarang tampil di Malaysia. Kami juga mengundang artis dangdut lainnya untuk tampil di Wisma Duta ini menghibur masyarakat Indonesia tapi sebagian besar sudah padat acaranya," kata Da`i.
Apapun juga, dua juta orang Indonesia di Malaysia memang butuh perhatian pemerintah. Seperti kata Chen salah satu pekerja Hotel Crown Kuala Lumpur, "Indonesia itu seperti kakak bagi Malaysia, kalau kakak senang, adik ikut senang." Sayangnya, saya tak sempat menghadiri acara tersebut sampai selesai. Setidaknya, saya paham sekarang kenapa upacara 17 Agustus begitu menggugah rasa kebangsaan ketika berada di luar negeri. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Konser musik Menembus Batas III digelar besok
- Madonna 'Evita Peron' bertemu Presiden Argentina
- Kategori film berbahasa terbaik diusulkan
- Empat Mata sudah boleh tayang lagi
- Batal di Jakarta, FFAP ke-52 digelar di Taipei