Bisnis Indonesia Online » Senggang » Seni & Budaya
Rabu, 20/08/2008 19:55 WIB
Sendratari Hasta Brata sedot ratusan pengunjung
oleh : S. Hadysusanto
JAKARTA (Bisnis.com): Pentas sendratari wayang bertajuk Hasta Brata/Rama Tundung di Teater Kautaman (Gedung Pewayangan), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), akhir pekan lalu menyedot ratusan pengunjung.
Tingginya minat penonton pertunjukan hasil kerja bareng TMII dengan Yayasan Swargaloka dan Sena Wangi tersebut karena tidak menggunakan dialeg Jawa, tapi bahasa Indonesia.
Menurut pengurus Yayasan Seni Wangi Ratna Sari Loppies, tujuan pentas dalam bahasa yang tidak lazim pada sendratari wayang agar dapat dimengerti masyarakat luas, tidak terbatas di kalangan penduduk Jawa saja.
"Terutama untuk menumbuhkan rasa cinta kaum muda terhadap salah satu seni budaya bangsa, dan menjunjung tinggi warisan leluhurnya," kata Ratna yang juga menjabat Ketua Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) kepada wartawan seusai pentas.
Selain itu, lanjutnya, pertunjukan tersebut akan menambah perhatian pengusaha untuk melestarikan seni pewayangan Indonesia. “Kami sangat menghagai jika peran serta mereka [pengusaha] lebih aware lagi."
Tentang pilihan lakon Hasta Brata/Rama Tundung, menurut Ratna, dalam budaya Jawa cerita tersebut sarat dengan filsafat hidup dan delapan simbol kepemimpinan yang dikaitkan pada kondisi alam seperti surya (matahari), chandra (bulan), kartika (bintang), angkasa (langit), maruta (angin), samudera (laut/air), dahana (api) dan bhumi (bumi/darat).
“Intinya, banyak orang Indonesia berlomba ingin jadi pemimpin, tetapi untuk memimpin negara masih kurang. Lebih memprihatinkan lagi, tidak sedikit dari mereka untuk mencapai tujuan melakukan cara-cara memalukan seperti demontrasi disertai kerusuhan,” urainya tentang filsafat cerita sendratari wayang tersebut.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Konser musik Menembus Batas III digelar besok
- Madonna 'Evita Peron' bertemu Presiden Argentina
- Kategori film berbahasa terbaik diusulkan
- Empat Mata sudah boleh tayang lagi
- Batal di Jakarta, FFAP ke-52 digelar di Taipei