Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Jumat, 14/03/2008 16:25 WIB
Nia Yulicha:
Membangun jaringan seni
oleh : Th. D. Wulandari
Sore itu Jakarta mulai gelap, apalagi langit juga mendung menandakan hujan akan datang. Namun, suasana mendung itu tidak tampak sedikitpun di wajah Nia Yulicha. Pembawanya yang selalu riang dan penuh tawa, membuat Nia dikenal sangat mendalami profesinya di bidang komunikasi.
Perempuan kelahiran Jakarta 24 Juli 1976 ini telah delapan tahun bergelut dengan pekerjaan sebagai public relation manager sebuah galeri lukisan. "Ini adalah karakter saya, kebetulan menemukan dunia pekerjaan yang menuntut saya memiliki pembawaan seperti saat ini," ujar PR Manager Galeri 678 ketika ditemui di tengah kesibukannya.
Nia pun bercerita tentang perjalanan karier dan pekerjaannya. Lulusan Fakultas Manajemen Pariwisata Universitas Sahid Jakarta ini mengawali karier dari usaha coba-coba bekerja di sebuah hotel di Jakarta.
Tak dinyana, sang pemilik hotel merasa terkesan dengan pekerjaan Nia yang saat itu masih berada di posisi staf shipping hotel, meski belum menyandang gelar sarjana.
Setahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1999, sang pemilik hotel, S. Jacob, yang sekaligus pemilik Galeri 678 mengajak Nia untuk bekerja sama membangun galeri lukisan.
"Awalnya bos saya kecewa karena membeli lukisan palsu dari salah satu galeri, sehingga menggerakkan dia untuk membangun galeri sendiri," ujar lajang ini.
Awal berdirinya galeri itu diakui Nia menjadi cerita yang luar biasa sepanjang kariernya. Sebagai orang yang pertama kali terjun ke dunia seni, dia mengaku buta dengan manajemen galeri seni.
Namun, dengan berbekal pengetahuan yang didapatkan secara langsung selama menjadi kepercayaan sang pemilik galeri, jaringan kerja, dan referensi beberapa buku yang dia baca, tidak terasa delapan tahun sudah Nia terjun ke bidang lukisan tanpa kendala.
Membangun brand
Tugas mulai dari bekerja serabutan membangun galeri yang masih berlokasi di kawasan Tanjung Priok, menjual lukisan dari pintu ke pintu, hingga menggelar pameran dengan konsep yang berbeda-beda demi membangun brand Galeri 678, sudah dijalaninya.
Dan galeri lukisan yang semula tidak dikenal kalangan pekerja seni lukis dan fine art lainnya, kini dikenal sebagai salah satu galeri besar di Indonesia dengan jaringan luas hingga ke mancanegara.
Oleh karena itu, nama Nia seakan tidak lepas dari Galeri 678. Apalagi prestasi Nia dan tim yang berhasil menggelar pameran sebanyak 15 kali sepanjang 1999, membuat namanya semakin diperhitungkan.
Tanya saja beberapa pelukis senior Tanah Air dan pendatang baru, siapa tidak kenal dengan Nia Yulicha yang notabene orang Galeri 678. Demikian juga dengan para pelaku bisnis galeri seni lainnya, namanya sudah tidak asing lagi.
Bukan hanya di dalam negeri, Nia juga tengah giat membangun jaringan seni hingga ke negeri seberang, seperti dengan balai lelang di Hongkong, Singapura, dan Beijing.
Jaringan kerja Nia di bidang seni semakin luas meski dia mengaku sangat membenci mata pelajaran seni lukis kala masih duduk di bangku sekolah. "Saya tidak bisa gambar makanya saya benci sekali dengan seni lukis. Namun, justru sekarang bekerja di bidang ini dan mau tidak mau harus suka," ujar Nia dengan tawa lepasnya.
Kini, ada hiburan baru yang dilakoninya. Selama setahun terakhir, perempuan yang hobi bertandang ke salon di akhir pekan ini gemar bergoyang Salsa. Tarian asal Spanyol ini disukai Nia karena selain membuat suasana semakin riang, juga menjadi ajang membakar kalori yang efektif dan menyenangkan.
Hingga saat ini Nia bisa dikatakan sebagai salah satu ahlinya, karena tingkat keahlian bergoyang Salsa atau grade 19 sudah berhasil dilaluinya. Namun, aktivitas ini agak sedikit terhambat mengingat Nia tengah sibuk dengan kuliahnya di Magister Management Komunikasi Trisakti International Bussiness School Jakarta.
"Ingin tambah pintar, supaya ilmu komunikasi yang saya dapatkan menambah kemampuan saya dalam menjalankan karier di bidang komunikasi," ujarnya.
Apalagi ke depan Nia memiliki mimpi untuk bekerja di tempat yang lebih menantang dengan jaringan yang lebih luas. Dan untuk menggapai semua mimpi itu tentu butuh persiapan, salah satunya dengan upaya menempuh pendidikan yang lebih tinggi, ditambah dengan usaha terus menerus membangun jaringan. (wulandari@bisnis.co.id)
bisnis.com
Sosok »
Maria Nainggolan
Ditopang bahasa gaulOleh: Noerma Komalasari
Ella Haryanto
Tak ingin ada batas dengan mediaOleh: Noerma Komalasari
Ana Mustamin
Pertahankan merek tetap seksiOleh: Noerma Komalasari
Maya Henrietta Camelia
Digerakkan oleh hatiOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Ebiet G. Ade
Teguh bermusik dengan kesederhanaanOleh: Th. D. Wulandari
Elies Lestari Setiawan
Tanpa embel-embel politikOleh: Noerma Komalasari
Elizabeth Maria
Bermodal kepercayaanOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Yeane Keet
Menaklukkan tantanganOleh: Reni Efita Hendry
Ika Winardi
Inspirasi ibuOleh: Suli H. Murwani
Komentar
#5 - buka ya blog saya
www.iwanismael.blogspot.com makasih iwan ismael
iwan ismael - bandung @ 04/07/2008 - 17:06 WIB dari 202.149.93.52 (202.149.93.52)
#4 - Membangun Jaringan Seni
Mba Nia, saya punya lukisan La-Rose dan Cak Kandar orisinal lengkap dengan cerita pemberiannya... kira2 kalo mau dijual bisa dititip jual atau malah dibeli sama galerinya?
Agnes - Bekasi-Indonesia @ 09/05/2008 - 20:31 WIB dari 125.160.244.128 (128.subnet125-160-244.speedy.telkom.net.id)
#3 - email
saya suka motret apakah bisa jadi jaringan anda di balas
sam - manado @ 23/04/2008 - 13:38 WIB dari 124.81.8.82 (124.81.8.82)
#2 - sukses ya
saya ada lukisan bisa engga saya nawarin kepada anda,balas ya ke email saya kantormael@yahoo.com
iwan ismael - bandung @ 24/03/2008 - 21:06 WIB dari 202.147.242.13 (202.147.242.13)
#1 - MEMBANGUN JARINGAN SENI
SEMOGA SUKSES SELALU
ROY COOLer - indonesia @ 19/03/2008 - 14:31 WIB dari 124.81.194.100 (124.81.194.100)