Bisnis Indonesia Online » Sosok




Sosok - Detail

Jumat, 14/03/2008 16:26 WIB

Dina Evangelista Delaura:
Tak mau dijajah fashion asing

oleh : Suli H. Murwani

Kecenderungan perempuan Indonesia yang memuja produk fashion dari luar negeri, walaupun untuk membelinya terpaksa menguras kocek memang berlawanan dengan semangat untuk mencintai produk dalam negeri.

Namun, tidak semua perempuan berlaku demikian. Setidaknya, itu tidak berlaku pada Dina Evangelista Delaura. Manajer Public Relations PT Sophie Martin Indonesia ini pantang memaksakan diri membeli barang bermerek luar negeri agar dibilang trendi.

Dalam berpenampilan, dia tidak mau dijajah fashion impor. Dina memilih mencintai produk dalam negeri bukan karena bekerja di perusahaan fashion yang menjual barang lokal dengan desain dari Paris.

Prinsipnya berpenampilan sesuai isi kantong. Lagi pula, mengenakan busana dan aksesori made in Indonesia tidak mengurangi rasa percaya diri perempuan ayu ini.

"Dalam fashion, yang penting menjadi diri sendiri. Jangan memakai sesuatu yang terlalu memaksa. Disayangkan kalau ikut tren, tetapi tidak sesuai kemampuan," katanya saat berbincang-bincang dengan Bisnis.

Dia prihatin dengan sikap fanatik buta terhadap produk merek luar negeri yang membuat sebagian perempuan merasa bangga memakai barang palsu. Padahal, ungkap Dina, seharusnya orang malu kalau memakai barang bermerek tetapi palsu.

Menurut dia, para perempuan bisa tetap tampil cantik dan trendi, walaupun menggunakan produk fashion lokal. Karena saat ini desainnya sudah banyak yang mengikuti tren luar negeri.

Dalam pandangan Dina, 'kegilaan' terhadap fashion luar negeri itu terjadi karena banyak perempuan yang menderita sindrom ingin meniru penampilan para pesohor.

"Mungkin karena banyak iklan, sehingga banyak perempuan yang terbius sindrom wanna be. Mereka pengen seperti idolanya, sehingga terjebak pada pola konsumtif," paparnya.

Walaupun tidak mendewakan fashion impor, Dina tidak menampik bahwa mengenakan busana bermerek itu perlu bagi kelas sosial tertentu. Kalau keuangan mampu, seseorang sah-sah saja membeli barang mahal agar diterima oleh lingkungan sosialnya.

Namun, inti berbusana yang trendi itu tidak harus dengan memaksakan diri membeli barang bermerek. Ibu satu anak ini juga tidak biasa menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang yang tidak penting.

Sedari kecil, perempuan kelahiran Palembang ini sudah diajari untuk menghargai uang. Dia pun menghindari berbelanja hanya karena lapar mata. Namun, kalau sesekali bersenang-senang atau memanjakan diri sendiri tidak masalah, selama tidak berlebihan.

Bertanggung jawab

Sebagai perempuan yang memiliki penghasilan sendiri, Dina tetap merasa perlu bertanggung jawab terhadap keuangannya, meski sang suami tidak mempermasalahkan kalau sesekali bujet belanjanya membengkak.

Kepercayaan yang besar terhadap pasangan hidup itu pula yang membuat Dina tidak membuat perjanjian pranikah yang menjadi tren pasangan muda saat ini. Walaupun tidak melakukan perjanjian pranikah, dia setuju saja kalau ada orang lain yang melakukan.

Kepentingan melakukan perjanjian pranikah, termasuk kesepakatan soal harta, bisa perlu atau tidak tergantung dari situasi dan kondisi masing-masing. Bahkan, dalam kasus pasangan yang status sosialnya sangat berbeda mungkin memerlukan perjanjian tersebut.

"Perjanjian itu perlu-perlu saja, apalagi kalau dari awal status sosialnya sangat berbeda. Mungkin harus ada sesuatu yang diproteksi dari kemungkinan niat jahat. Karena kita tidak tahu, apakah cintanya tulus atau tidak," ungkapnya.

Dina yang mengawali karier di HSBC ini memang tergolong perempuan yang mandiri secara ekonomi. Pengalaman masa kecil sudah ditinggal sang ayah meninggal dunia memengaruhi pola pikirnya tentang perlunya seorang perempuan bekerja.

Saat itu, sang ibu yang berstatus ibu rumah tangga kerepotan harus membiayai anak-anaknya yang semua masih sekolah. Oleh karena itu, menurut Dina, walaupun tidak selalu pengertian kerja adalah kerja kantoran, perempuan perlu tetap bekerja untuk memberdayakan diri.

Alasannya, kalau sampai terjadi hal buruk yang menimpa kehidupan perkawinan, misalnya perceraian atau pasangan hidup meninggal, dia bisa mengambil peran menyelamatkan masa depan anak-anak.

Dina bukan tipe orang yang bisa berdiam diri. Kalau lagi ada waktu luang, dia biasa memuaskan hobi menjahit atau mempercantik pernak-pernik di rumahnya di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Sebagai perempuan, sosoknya juga terlihat mandiri karena sejak kuliah sudah terbiasa tinggal terpisah dari orangtua dan indekos di Jakarta.

Berbicara tentang pekerjaannya di kantor, Dina yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana ekonomi ini tidak menyangka kalau akhirnya menekuni dunia kehumasan dan promosi.

Apalagi, pengalaman kerjanya yang pertama adalah di perbankan. Beruntung, bos di Sophie Martin memberi kesempatan untuk belajar sambil bekerja. Keterampilan komunikasi dan menulis akhirnya bisa dikuasai Dina yang kini telah menekuni bidang ini selama lima tahun.

Perempuan yang sering disangka berdarah Rusia karena nama tengah dan belakangnya berbau Eropa Timur-padahal nama itu pemberian sahabat sang ayah-akhirnya menutup obrolan santainya dengan tawa berderai. (suli.murwani@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Sosok »

  • Work hard, play hard

    Refida Herastuti
    Work hard, play hard

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Ditopang bahasa gaul

    Maria Nainggolan
    Ditopang bahasa gaul

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Tak ingin ada batas dengan media

    Ella Haryanto
    Tak ingin ada batas dengan media

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Pertahankan merek tetap seksi

    Ana Mustamin
    Pertahankan merek tetap seksi

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Digerakkan oleh hati

    Maya Henrietta Camelia
    Digerakkan oleh hati

    Oleh: Hilda Sabri Sulistyo

  • Teguh bermusik dengan kesederhanaan

    Ebiet G. Ade
    Teguh bermusik dengan kesederhanaan

    Oleh: Th. D. Wulandari

Komentar

#2 - semua bisa

aku ingin gabung

rizal.konofo - gorontalo/indonesia @ 21/03/2008 - 19:38 WIB dari 61.94.197.35 (61.94.197.35)

#1 - Tak mau dijajah fashion asing

SETUJU SEKALI,,SUDAH WAKTUNYA KITA MENUNJUKKAN CIRI KHAS BANGSA KITA KEPADA DUNIA LUAR, JGN HANYA MENERIMA SAJA..

ROY COOLer - indonesia @ 19/03/2008 - 14:37 WIB dari 124.81.194.100 (124.81.194.100)

Beri Komentar