Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Selasa, 01/04/2008 19:50 WIB
Sylviana Murni:
Perempuan walikota pertama
oleh : Nuruddin Abdullah & Lahyanto Nadie
"Alhamdulillah, Mpok Sylvi jadi Walikota," pekik Beky Mardani, Ketua Bamus Badan Musyawarah Masyarakat Betawi.
Kegembiraan Beky, tak bisa disembunyikan. Dia berteriak tanpa sadar ketika Sylvi dilantik hari ini. Ya, Sylviana Murni, kini telah resmi menjadi walikota perempuan yang pertama di Jakarta. Gubernur DKI Fauzi Bowo, melantiknya sebagai Walikota Jakarta Pusat, menggantikan Muhayat yang diangkat menjadi Sekretaris Daerah.
Pelantikan Mpok Sylvi, panggilan akrab perempuan kelahiran Jakarta, 11 Oktober 1959, menjadi Walikota Jakarta Pusat itu menjadi sejarah baru di Ibu Kota. Suatu keniscayaan di era Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto masih berkuasa.
Dengan alasan wilayahnya terdapat simbul simbul-simbul resmi Istana Merdeka, tempat berkantornya presiden RI dan kantor wapres, gubernur dan DPRD DKI, Bank Indonesia sehingga pejabat walikotanya dari angkatan darat.
Namun, zaman telah berubah, seorang perempuan kini bisa menjadi walikota, bahkan di daerah yang memiliki ring paling dijamin keamanannya di negeri ini. Sylvi dilantik tepat menjelang peringatan hari Kartini, 21 April, simbol emansipasi perempuan.
Maka pelantikan Sylvi menjadi magnet tersendiri, dihadiri hampir seluruh pejabat teras Pemprov DKI, kalangan pimpinan dan anggota DPRD DKI, manta Gubernur DKI Sutiyoso, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono.
Mereka rela berpanas-panasan duduk mengikuti upacara pelantikan yang digelar di halaman kantor walikota Jl. Tanah Abang I Jakarta Pusat, yang disulap menjadi tempat pertemuan terbuka dengan tenda berlapis kain putih, tanpa air conditioner dan banyak kipas angin biasa.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam sambutannya menegaskan pelantikan walikota kali ini sangat bersejarah karena untuk kali pertama seorang perempuan menduduki jabatan strategis sebagai walikota.
"Ini sekaligus sebagai hadiah, khusus bagi kaum perempuan Jakarta dalam menyambut Hari Kartini yang sebentar lagi akan kita peringati," katanya saat melantik Sylvi.
Istri dari Gde Sardjana dan ibu dari Shandy Aditya dan Monica Andalusia ini tidak diragukan lagi kemampuannya mengingat dia sudah makan asam garam di lingkungan Pemprov DKI dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI.
Sylvi memulai karir sebagai pegawai negeri sipil di Pemprov DKI sejak 1985 sebagai staf penatar BP-7 DKI (1985-1987), staf Biro Bina Mental (Bintal) pada 1987-1989, Kasubag Pendidikan Luar Sekolah Biro Bintal (1989-1991), Kasubag Seni Budaya Biro Bintal (1991-1995).
Juga pernah menjabat Kabag Kebudayaan Biro Bintal (1995-1997), anggota DPRD DKI Periode (1997-1999), Karo Bina Sosial DKI (1999-2001), Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCS) DKI dan terakhir Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI sebelum dilantik jadi Walikota.
Penyandang gelar doktor bidang manajemen pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (2005) itu sempat menjadi anggota DPRD dari Fraksi Golkar pada 1997-1999 dengan status cuti di luar tanggungan Negara saat menjadi anggota dewan.
Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, Mpok Sulvy juga aktif di berbagai organisasi mulai dari Bamus Betawi, Persatuan Wanita Betawi (PWB) hingga tingkat nasional dan regional.
Putri ketiga dari sepuluh bersaudara pasangan Betawi asli, almarhum Kol (Purn) HD Moerdjani dan Hj. Ni'mah dikenal luas masyarakat, terutama dalam komonitas warga Betawi.
Bahkan bersama sejumlah tokoh perempuan Betawi dia membentuk Persatuan Wanita Betawi (PWB) pada 1984 yang kemudian menjadi anggota Badan Kerja sama Organisasi-organisasi Wanita (BKOW) tingkat nasional
Komitmennya terhadap upaya meningkatkan sumber daya manusia di Jakarta, saat menjabat Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI sangat keras mengawasi pelaksanaan program bebas biaya sekolah bagi siswa sekolah dasar dan menengah.
Jika ditemukan ada pungutan terhadap orang tua murid, dia tidak segan akan bertindak tegas kepada pihak sekolah yang bersangkutan.
Program itu berhasil menjangkau sekitar 600.000 siswa SD di Jakarta dan 220.000 siswa SLTP. Apalagi dari jumlah tersebut sebanyak 135.000 siswa SD di dan 22.000 siswa SMP tidak mampu.
Maka kapasitas perempuan barkaca mata ini tidak perlu diragukan lagi untuk memimpin Jakarta Pusat, yang secara umum persoalannya cukup besar, rumit dan kompleks sehingga perlu penanganan dan pembinaan yang terus menerus, terarah dan terpadu dengan visioner andal dan kredibel.
Wilayah Jakarta Pusat dengan penduduk yang cukup padat mencapai 18.000 jiwa per m2 dengan jumlah warta yang tergolong miskin berjumlah 22.000 Kepala Keluarga dengan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial sekitar 14.000 jiwa.
Sylvi tidak menyembunyikan rasa suka citanya menerima jabat tangan dari para tamu undangan dan koleganya di Pemrov DKI. Dia menyatakan rasa syukur telah mendapat kepercayaan untuk memimpin Jakarta Pusat.
Namun, untuk keberhasilannya, dia tetap berharap seluruh pejabat di Pemerintahan Kota Jakarta Pusat dapat bekerja sama dan menjadi tim kerja yang andal di bawah kepemimpinanya.
"Saya bersyukur dengan amanah ini, dan semoga dapat melayani masyarakat dengan baik," jelas None Jakarta 1982 itu.
Pelayanan masyarakat yang baik bukan sekadar dengan menyiapkan infrastruktur dan sistem pelayanan yang serba prima, tetapi juga melibatkan secara aktif mereka sehingga merasa menjadi bagian dari proses pembangunan.
Sylvi perlu menyadari bahwa tindakan sekecil apapun yang dia lakukan, terutama yang dikategorikan hal menyimpang, maka cepat atau lambat, pasti akan terbongkar.
Apalagi sistem pengawasan sekarang ini sangat berlapis, mulai dari lembaga pengawas formal, legislatif, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan masyarkat luas. (nurudin.Abdullah@bisnis.co.id)
bisnis.com
Sosok »
Maria Nainggolan
Ditopang bahasa gaulOleh: Noerma Komalasari
Ella Haryanto
Tak ingin ada batas dengan mediaOleh: Noerma Komalasari
Ana Mustamin
Pertahankan merek tetap seksiOleh: Noerma Komalasari
Maya Henrietta Camelia
Digerakkan oleh hatiOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Ebiet G. Ade
Teguh bermusik dengan kesederhanaanOleh: Th. D. Wulandari
Elies Lestari Setiawan
Tanpa embel-embel politikOleh: Noerma Komalasari
Elizabeth Maria
Bermodal kepercayaanOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Yeane Keet
Menaklukkan tantanganOleh: Reni Efita Hendry
Ika Winardi
Inspirasi ibuOleh: Suli H. Murwani