Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Jumat, 04/04/2008 12:15 WIB
Nadira Alatas Sriwijanarko:
Bangkit dari keterpurukan
oleh : Suli H. Murwani
Keinginan berprestasi dalam teori herarki kebutuhan Abraham Maslow merupakan salah satu kebutuhan manusia. Walaupun telah berada di zona kenyamanan hidup, keinginan berprestasi itu tetap ada.
Itulah yang dirasakan oleh Nadira Alatas Sriwijanarko. Sebagai anak mantan pejabat, dia hidup nyaman dengan berbagai fasilitas. Kondisi ini membuat dia terlena, mengabaikan kariernya.
Putri mantan menteri luar negeri Ali Alatas ini kerap berpindah-pindah kerja tanpa fokus menekuni satu bidang. Akibatnya, kata Nadira, kariernya tak tertata dengan baik.
"Tidak ada bidang yang benar-benar saya tekuni. Sekarang, kesempatan saya untuk mengejar ketertinggalan," kata Nadira kepada Bisnis.
Dengan menyadari kesalahan itu, walaupun kini duduk di posisi sebagai salah satu pemilik saham di perusahaan konsultan bisnis dan komunikasi Kiroyan Kuhon Partners, dia bertekad bangkit memperbaiki diri.
Nadira bertekad mengejar ketertinggalannya dalam karier dengan cara menekuni pekerjaan sehingga bisa berprestasi. Walaupun usianya sudah tak muda lagi, lebih dari 40 tahun, dia rela belajar dari juniornya.
Dia beruntung, pekerjaan di Kiroyan Kuhon Partners memberi kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang. Ini kesempatan emas bagi Nadira untuk belajar banyak hal, sekaligus mengasah wawasan.
Dia telah memantapkan diri untuk menekuni dunia komunikasi sebagai pekerjaan yang dipilih. Meskipun latar belakang pendidikannya ilmu politik, Nadira ternyata memang lebih menyukai dunia komunikasi.
Maka, dia berniat mengetahui penerapan komunikasi di dunia bisnis lebih mendalam. Bahkan, Nadira berencana untuk mengambil pendidikan di bidang master komunikasi.
Dunia komunikasi mungkin lebih sesuai dengan jiwanya. Pengalaman kerjanya selalu tak jauh dari dunia komunikasi, meskipun, saat kuliah di Amerika Serikat, dia justru memilih jurusan ilmu politik.
Menurut pengakuan Nadira, belajar ilmu politik hanya untuk menuruti kehendak sang ayah. Dia merasa dunia politik bukan jiwanya. Namun, perjalanan di dunia kerja membuatnya tersadar bahwa ilmu politik yang dipelajarinya ternyata bermanfaat.
Dia pun merasa menyesal mengabaikan ilmu politik pilihan sang ayah itu. Namun, tak ada kata terlambat untuk berubah. Nadira yang pernah memiliki pengalaman pahit terjerumus ke dunia narkoba ini ingin bisa menjadi manusia yang lebih baik. Dia ingin bangkit dari keterpurukan.
Sebagai putri pejabat, mungkin banyak yang menyangka jalan hidup yang dilakoni Nadira mulus-mulus saja. Dia tak memungkiri terlahir sebagai anak yang beruntung karena memiliki ayah yang sukses, bereputasi baik, dan memanjakan anak.
Anak nomor dua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan ini merasa selalu hidup di zona nyaman. Dia hidup tanpa tuntutan dari orang tua dan dimanjakan.
Akibat berlimpahan fasilitas itu pulalah yang mungkin membuatnya pernah terjerumus ke narkoba. Saat remaja, perempuan berdarah Arab ini pernah terjerat narkoba hingga kabur dari rumah.
Tumbuhkan semangat
Kenyataan itu membuat sedih keluarganya. Sampai suatu hari pada 1996, dia dijemput sang adik dari rumah kawannya dan langsung dimasukkan ke pesawat untuk menjalani ibadah umroh.
Di Tanah Suci itulah dia merasakan kesakitan luar biasa akibat sakauw ketagihan narkoba. Namun, dampaknya luar biasa. Sepulang dari umroh, ibu dua anak berusia 10 tahun dan 2 tahun ini terbebas dari kecanduan obat terlarang.
Pengalaman pahit itu membuka matanya dan menumbuhkan semangat untuk memperbaiki diri. Saat ini, dia baru bisa merasakan bahwa sejatinya sang ayah ingin mewariskan spirit kerja keras pada anak-anaknya.
Dengan belajar dari pengalaman hidup itu, Nadira optimistis semua orang sebenarnya bisa bangkit dari keterpurukan, kalau ada kemauan. Orang yang pernah melakukan kesalahan pun tetap bisa menggapai cita-citanya.
Kini, istri dari Bambang Sriwijanarko ini merasa hidupnya lebih tenang. Nadira merasa lebih ikhlas dalam melihat kehidupan. Walaupun anak pejabat, dia tak memilih kelas sosial dalam pergaulan.
Bergaul dengan orang dari berbagai lapisan sosial memberi wawasan baru yang bermanfaat untuk lebih mendewasakan diri.
Orang bijak mengatakan masa lalu yang mengecewakan bukan untuk ditangisi, tetapi diambil pelajaran. Kemauan belajar dari kesalahan masa lalu itu akan membuat orang lebih mudah bangkit dari keterpurukan.
Sebagai ibu, perempuan berkulit putih langsat ini ingin memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya. Dia menerapkan sistem komunikasi dua arah dan keterbukaan dalam mendidik anak.
"Kalau saya dahulu, sistem pendidikannya model one way [satu arah]. Anak sekarang harus diberi kebebasan, tetapi diberi dasar agama yang kuat," ungkapnya.
Dia berharap bisa menjadi orang tua yang baik bagi anaknya. Kini, kalau ada masalah, dia berusaha lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Walaupun ibadah salat dan puasa diakuinya terkadang belum konsisten, Nadira berusaha terus memperbaikinya.
bisnis.com
Sosok »
Maria Nainggolan
Ditopang bahasa gaulOleh: Noerma Komalasari
Ella Haryanto
Tak ingin ada batas dengan mediaOleh: Noerma Komalasari
Ana Mustamin
Pertahankan merek tetap seksiOleh: Noerma Komalasari
Maya Henrietta Camelia
Digerakkan oleh hatiOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Ebiet G. Ade
Teguh bermusik dengan kesederhanaanOleh: Th. D. Wulandari
Elies Lestari Setiawan
Tanpa embel-embel politikOleh: Noerma Komalasari
Elizabeth Maria
Bermodal kepercayaanOleh: Hilda Sabri Sulistyo
Yeane Keet
Menaklukkan tantanganOleh: Reni Efita Hendry
Ika Winardi
Inspirasi ibuOleh: Suli H. Murwani