Bisnis Indonesia Online » Sosok




Sosok - Detail

Jumat, 25/04/2008 12:54 WIB

Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo:
Buat terobosan untuk MICE

oleh : Hilda Sabri Sulistyo

Menjadi penduduk global sudah dijalani sejak usia balita hingga sekarang. Pasalnya, dalam setahun Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo yang akrab dipanggil Sarah ini memang banyak menghabiskan waktunya di berbagai negara. Kini, selain berkutat di Jakarta, Kota London dan Washington DC juga menjadi rute tetapnya beraktivitas.

Tak heran, untuk bertemu dengan gadis yang satu ini Bisnis harus melacak dulu di mana keberadaannya. Maklum, putri dari Anie Haryati dan Hasyim Djojohadikusumo ini banyak terlibat dalam berbagai aktivitas bisnis ataupun sosial yang sudah dirintis oleh kedua orangtuanya.

Untunglah, kali ini dia bisa ditemui di sebuah kantor di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta. Sarah tengah berdiskusi dengan tim kerjanya untuk merancang sebuah acara yang akan digelar di Yogyakarta pada September.

Sikap profesional dan fokus pada pekerjaan yang ditanganinya membuat lawan bicaranya menjadi asyik terlibat dalam semangat dan gairahnya untuk membangkitkan bisnis meeting, incentive, conference, exhibition (MICE) yang tengah dirintisnya. Apalagi saat disinggung dengan kaitan program pemerintah Tahun Berkunjung Ke Indonesia atau Visit Indonesia Year (VIY) 2008.

"Kegiatan MICE justru akan mendorong kunjungan wisman ke Indonesia, sayang promosi pariwisata Indonesia belum menjadi prioritas dan komitmen bersama, sehingga program VIY ini gaungnya sangat kurang di luar negeri. Harusnya Depbudpar dapat mengelola dana promosi yang terbatas itu lebih smart. Pasang logo dan gambar destinasi di Google, Yahoo, atau search engine lainnya, misalnya yang tiap hari dikunjungi jutaan umat di dunia. Kan itu juga promosi," tandasnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara kelahiran 27 Januari 1986 ini mengaku orangtuanya, terutama sang ibu, menanamkan kecintaan pada Tanah Air, wawasan kebangsaan, nilai-nilai seni dan budaya. Semuanya itu membuat Sarah terdorong untuk ikut berkiprah dalam berbagai aktivitas pelestarian seni, budaya, berkecimpung di berbagai aktivitas sosial, terjun ke bisnis MICE dan menjadi duta pariwisata RI secara mandiri tanpa diminta oleh siapa pun.

"Waktu sekolah dulu 'tanduk'ku bisa keluar kalau ada temen sekolah yang tidak tahu di mana letak Indonesia, atau Bali dianggap bukanlah Indonesia. Aku bisa ceramahin abis murid-murid internasional itu karena lemah dalam hal geografi. Waktu kasus lagu Rasa Sayange dengan Malaysia, aku sibuk klarifikasi di blog dan friendster lagu itu milik bangsa Indonesia," tandasnya.

Selain sisi kebangsaannya yang menonjol, menjadi penduduk global juga membuat Sarah memiliki kepekaan yang tinggi dalam hal menghargai hubungan dengan sesama ataupun antara manusia dan Sang Khalik.

Mensyukuri

Gadis yang waktu luangnya dihabiskan untuk membuka Internet, melakukan korespondensi, fitness, dan naik kuda ini menilai Tuhan menciptakan setiap manusia dengan spesialisasi masing-masing. Oleh arena itu, setiap saat Sarah menjalani hidup yang bermakna, mensyukuri talenta dan hidup dengan cinta serta suara hati.

"Sarah pasti mencari makna buat keluarga ataupun komunitas, karena itu kalau sedang di Jakarta aku akan usahakan kumpul dengan keluarga besar dari pihak mama dan papa, serta menengok saudara-saudara yang kurang beruntung hidupnya," ungkapnya.

Dia tidak menampik kenyataan terlahir dari keluarga pengusaha yang mapan dan serba kecukupan, tetapi kedua orangtua dan keluarga besarnya justru tidak pernah mendidiknya untuk berorientasi pada bisnis dan materi.

Mereka justru membimbing dirinya untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dengan melibatkannya langsung pada berbagai program penyelamatan lingkungan dan umat manusia dari kemiskinan.

"Orangtua menjadi living book bagi Sarah untuk belajar bagaimana tangan Tuhan bekerja apabila kita hidup tidak memikirkan diri sendiri, tetapi juga hidup orang lain yang kurang beruntung," ungkapnya.

Sarah ingin tampil sebagai individu, mengasah talenta dan hidup mandiri dari hasil kerja sendiri. Semakin banyak penghasilan, Sarah juga akan makin berupaya membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Dia mengaku bakatnya menjadi professional conference organizer (PCO) justru karena sejak kecil kerap dipercaya menjadi pengiring pengantin. Dia akhirnya kerap terlibat dalam kepanitiaan resepsi pernikahan keluarga hingga akhirnya memilih terjun ke bisnis MICE.

Kini sebagai direktur PT Arsari Duta Semesta, dia punya visi menjadi PCO kelas internasional. Suatu saat, dia ingin Indonesia bisa menjadi tuan rumah World Economic Forum yang banyak mendatangkan peserta dan pers internasional.

"Saya ingin buat terobosan di bidang MICE sehingga otomatis pengembangan pariwisata juga akan ikut terdongkrak. Kegiatan yang memiliki dampak langsung pada masyarakat harus menjadi prioritasku," ujarnya mengakhiri obrolan sebelum terbang ke India, untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. (hilda.sabri@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Sosok »

  • Work hard, play hard

    Refida Herastuti
    Work hard, play hard

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Ditopang bahasa gaul

    Maria Nainggolan
    Ditopang bahasa gaul

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Tak ingin ada batas dengan media

    Ella Haryanto
    Tak ingin ada batas dengan media

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Pertahankan merek tetap seksi

    Ana Mustamin
    Pertahankan merek tetap seksi

    Oleh: Noerma Komalasari

  • Digerakkan oleh hati

    Maya Henrietta Camelia
    Digerakkan oleh hati

    Oleh: Hilda Sabri Sulistyo

  • Teguh bermusik dengan kesederhanaan

    Ebiet G. Ade
    Teguh bermusik dengan kesederhanaan

    Oleh: Th. D. Wulandari

Komentar

#1 - tanay email

saya sangat tertarik dengan artikel Rahayu Saraswati,masih sangat muda sudah memiliki concern yang besar terhadap negara dan mempunyai misi yang baik.apa bisa saya minta email atau apapun untuk dapat menghubungi Ibu rahayu saraswati.terimakasih

dion dela octova - bandung/indonesia @ 25/04/2008 - 14:23 WIB dari 202.138.226.5 (proxy5.melsa.net.id)

Beri Komentar