Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Jumat, 25/07/2008 14:18 WIB
Refida Herastuti:
Work hard, play hard
oleh : Noerma Komalasari
Refida Herastuti mengingatkan saya kepada Ray Embrey, tokoh rekaan di film Hancock. Embrey yang diperankan Jason Bateman berandil besar dalam mengangkat citra Sang pahlawan slebor, John Hancock.
Walaupun bermaksud baik, Hancock selalu salah di mata masyarakat. Caranya yang urakan dalam memberantas kejahatan malah dianggap memperburuk keadaan kota.
Setelah lama bergaul dengan Embrey, pada akhirnya Hancock mau mendengarkan saran public relation itu. Embrey mengatur strategi guna mengangkat nama Hancock. Semua berjalan mulus, pahlawan itu pun meraih apa yang selama ini dicari, yakni pengakuan dari masyarakat.
Kembali lagi ke Refida, perempuan berkulit putih bersih ini bukanlah public relation seperti Embrey. Refida berprofesi sebagai personal branding consultant and management.
Namun, perannya sehari-hari, menurut saya, beda tipis dengan Embrey. Ibu dua anak yang akrab disapa Refie ini kini menjabat sebagai pemimpin AA Management. Di bawah bendera AA Management, Refie menangani sekitar lima klien. Dia bertugas melambungkan kiprah kliennya lewat sejumlah cara unik.
Salah satu klien atau partner yang digaetnya adalah Wealth Planner Aidil Akbar. Kendati masih merahasiakan sisanya, Refie mengatakan klien lainnya juga berkecimpung pada jasa keuangan.
"Saya berbeda dengan layaknya manajer artis yang memasok pekerjaan terus ke artisnya, ibaratnya saya hanya membuka jalan dan mematangkan klien," ujarnya.
Yang dimaksud Refie, misalnya, memasukkan kliennya ke acara strategis yang dapat melambungkan nama klien tadi. Refie juga mengatur jadwal dan detail spesifik kliennya.
Istri Gada Putra Gartina ini berujar ada hal-hal yang harus dijaga untuk memperoleh pengakuan masyarakat. Misalnya, Refie menyarankan Akbar untuk tidak tampil terlalu fancy. Hal itu karena profesi yang dilakoni Akbar berkaitan erat dengan kepercayaan. Penampilan dan dandanan yang berlebihan bisa jadi malah melunturkan kepercayaan pengguna jasanya.
Bersama dua rekan di AA Management, Refie selektif memilih klien. Klien dituntut harus benar-benar kompeten di bidangnya. Apabila syarat dasar tadi terpenuhi, barulah dia menerima seseorang menjadi klien.
Refie tidak mau dicap sebagai personal branding consultant yang asal-asalan. Hal itu akan mencoreng reputasi andalnya pada masa mendatang. Sebagai konsultan dia memiliki gaya tersendiri. Setiap klien diberinya tag line yang mewakili karakteristik dan kemampuan yang dimiliki.
Intinya adalah bagaimana menampilkan dan menjadikan klien dikenal masyarakat dalam paket yang cantik. Sebagai personal branding consultant hal itu merupakan sebuah tantangan yang menarik.
Pasalnya, potensi orang berbeda-beda.
Di tahap awal, Refie biasanya menggali potensi dan kekuatan yang menonjol dari klien tadi. Setelah didapat, potensi dan kekuatan itu harus dijaga secara konsisten sepanjang waktu. Untuk Akbar, misalnya, Refie mempopulerkan melalui buku dan permainan Rich Game.
"Rich Game konsepnya dari AA Mangement, Akbar tinggal mengisi isinya. AA juga yang membantu Akbar masuk dalam Kick Andy."
Berperan penting
Penyuka belanja dan bepergian ini buka mulut soal keberaniannya terjun ke bisnis menantang itu. Menurut dia, personal branding consultant penting peranannya bagi setiap individu, tidak hanya berguna bagi para pesohor. Mulai dari pemilik bengkel hingga pengusaha rumah makan perlu menggunakan jasa personal branding consultant. Semuanya tidak boleh mengelola mereknya sembarangan.
"Buat yang beda, bagaimana agar pembeli yang mencari, bukan malah si pengusaha yang mengeluarkan tenaga besar menjaring pelanggan."
Pemain bidang jasa personal branding consultant masih terbilang sedikit jumlahnya, padahal pasarnya sangat terbuka lebar. Oleh karena itu, Refie betah berlama-lama menekuni bisnis ini, malahan kalau bisa dia berharap bisa sampai tua.
Jiwa marketing yang dimilikinya diasahnya otodidak. Refie menamatkan sekolah sekretaris di LPK Tarakanita. Kepiawaiannya dalam dunia marketing sedikit demi sedikit tumbuh sejalan dengan jam terbang yang dimiliki.
Refie mengaku agak kerepotan kalau diwajibkan membagi waktu untuk meneruskan pendidikan formalnya. Saat ini dia sudah memasang gigi empat membelah diri untuk keluarga dan pekerjaan.
"Dalam industri jasa yang penting jam terbang, semakin tinggi maka orang akan tahu dan kepercayaan terjaga. Mengapa harus kepatok dengan gelar?"
Pengelolaan waktunya sangat ketat, dalam seminggu tiga kali dia menyambangi kantor AA Management. Selebihnya dia bekerja di rumah atau membuat janji di luar dengan klien.
Refie beruntung dianugerahi keluarga yang amat mengerti kesibukannya. Dua anaknya, Ghian Ramadhika dan Gavin Ramadahana, juga suaminya yang karyawan Daimler Chrysler mendukung sepenuhnya.
Pastinya, saat senggang Refie menebusnya dengan bepergian bersama keluarga dan menyenangkan diri. Tepat seperti moto fans berat Sidney Sheldon ini yakni work hard, play hard. (redaksi@bisnis.co.id)
bisnis.com
Sosok »
Susanti Nurmalawati
Semua bisa dipelajariOleh: Th. D. Wulandari
Yvette Switalski
Gudang ide gilaOleh: Noerma Komalasari
Arum Indriasari
Ditopang meditasiOleh: Th. D. Wulandari
Eugenia Siahaan
Bermodal nekadOleh: Th. D. Wulandari
Astri Sungkono
Siap diandalkanOleh: Noerma Komalasari
Nina Agustriana
Ketika hidup harus memilihOleh: Th.D. Wulandari
Anita Christiyanti
Ingin jadi sumber inspirasiOleh: Noerma Komalasari
Els Ramadhinta
Sesuai mimpiOleh: Th. D. Wulandari
Faridah Lim
Hasrat terus mencintaiOleh: Noerma Komalasari