Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Jumat, 05/09/2008 13:14 WIB
Yuyun Setiawati Lanasier:
'Jangan setengah-setengah'
oleh : Th. D. Wulandari
Bagi setiap orang, mengasah kemampuan diri dengan meraih jenjang pendidikan tinggi tentu dengan harapan untuk meraih karier setinggi-tingginya. Namun, hal ini tidak berlaku untuk Yuyun Setiawati Lanasier.
Dengan berbekal pendidikan master teknik di University of New South Wales Sydney, Australia, putri pasangan H.S. Hermawan dan Itje Hermawan ini memutuskan tetap menekuni usaha Restoran Sindang Reret yang sudah berdiri sejak 1972.
"Dulu saya suka dengan teknik dan ingin serius pada dunia ini, tetapi tidak terpikirkan saat keluarga lebih butuh saya untuk mengelola bisnis ini [restoran]," ujar alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahiyangan Bandung ini.
Entah bagaimana ceritanya, perempuan berkulit bersih itu ternyata juga lebih menekuni hobi memotret yang dia dapat dari salah seorang kawan dekat. Tidak tanggung-tanggung, Yuyun bahkan membuka usaha fotografi yang dia bangun bersama kawan-kawannya di Kota Kembang.
Hal itu bukan tanpa alasan. Saat lulus sarjana teknik sipil pada 1997, krisis ekonomi tengah melanda Tanah Air, bisnis konstruksi turut terkena imbasnya. Yuyun merasa tidak memiliki lapangan pekerjaan dengan bekal titel sarjana teknik.
Alhasil, putri bungsu dari lima bersaudara ini akhirnya memilih membuka usaha fotografi Fairy Tale yang khusus melayani foto pernikahan.
"Saat itu belum banyak pelaku bisnis wedding photography yang dibuat cantik dan ide-ide baru seperti saat ini, dua tahun saja sejak buka usaha sudah full book," ujar perempuan yang siang itu tampak anggun mengenakan busana batik kehijauan sembari tersenyum.
Dua tahun menjalankan bisnis fotografi, entah mengapa Yuyun berpikir untuk melanjutkan pendidikan teknik sipilnya, meski tidak memberikan prospek karier yang menjanjikan. Dengan berbekal keyakinan, Yuyun akhirnya memilih jurusan environmental engineering science di University of New South Wales, Sydney.
Keinginannya itu bukan tanpa hambatan. Sang ibu menentang niat Yuyun menekuni teknik dan menyarankan perempuan berambut sebahu itu menekuni pendidikan fotografi.
Namun, saran sang ibu ditentangnya dan tidak mengurungkan niat untuk tetap pergi ke Negeri Kanguru.
Sebagai bagian dari komitmennya, Yuyun meminta kepada sang ibu hanya memenuhi separuh dari biaya hidup dan pendidikannya di Australia. Sisanya, diperoleh dari usaha wedding photography yang kembali dia buka di sana.
Hijrah ke Jakarta
Tepat 1,5 tahun Yuyun menyelesaikan pendidikan master, dia kembali ke Indonesia dan memutuskan menikah dengan Rio Lanasier. Yuyun kemudian hijrah ke Jakarta mengikuti sang suami yang bekerja di Ibu Kota.
Anehnya, bukan dunia teknik sipil yang digelutinya, justru usaha fotografi kembali dia buka hingga saat Yuyun melahirkan anak pertamanya.
Ketika kehamilannya berusia delapan bulan, aktivitas fotografi masih dilakoninya. Namun, sejak melahirkan semua kegiatan fotografi berhenti, begitu juga dunia teknik tidak pernah dirambahnya. Yuyun lebih fokus pada bisnis restoran.
Dari semua perjalanan hidup yang dijalaninya, Yuyun yang sudah akrab dengan usaha restoran sejak kecil ini mengaku bisa memetik satu hikmah hidup.
"Kita harus fokus pada satu pekerjaan, kalau semua dijalankan setengah-setengah menurut pengalaman saya tidak akan membawa hasil maksimal," ujar perempuan yang juga hobi menyanyi ini.
Selain fokus, Yuyun yang saat ini menghuni salah satu rumah di kawasan Pondok Indah ini juga menyarankan untuk selalu mendengarkan saran dari orang tua.
Tidak heran jika hingga kini Yuyun sangat mengidolakan sang ibu. Sang ibu yang kini usianya sudah menginjak senja diakui sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam hidup.
Kerja keras dan prinsip hidup yang diwariskan dari sang ibu menjadikan Yuyun menjalankan aktivitas dan kesibukannya dengan lebih baik.
Apalagi selain menjalankan profesi sebagai ibu dari dua putri cantik Azzahra Raissa Lanaiser dan Malva Chalisa Lanaiser, Yuyun juga bertanggung jawab atas hampir 400 karyawan Sindang Reret yang berada di Bandung dan Jakarta.
Seiring dengan persaingan restoran Sunda yang semakin ketat, Yuyun juga memikirkan manajemen perusahaan dan inovasi bisnis yang sesuai dengan pasar.
"Ke depan kami berencana mendirikan hotel dan cabang restoran di negara tetangga. Sudah banyak tawaran membangun restoran cabang di Singapura dan kawasan Eropa," ujarnya menutup perbincangan. (wulandari@bisnis.co.id)
bisnis.com
Sosok »
Susanti Nurmalawati
Semua bisa dipelajariOleh: Th. D. Wulandari
Yvette Switalski
Gudang ide gilaOleh: Noerma Komalasari
Arum Indriasari
Ditopang meditasiOleh: Th. D. Wulandari
Eugenia Siahaan
Bermodal nekadOleh: Th. D. Wulandari
Astri Sungkono
Siap diandalkanOleh: Noerma Komalasari
Nina Agustriana
Ketika hidup harus memilihOleh: Th.D. Wulandari
Anita Christiyanti
Ingin jadi sumber inspirasiOleh: Noerma Komalasari
Els Ramadhinta
Sesuai mimpiOleh: Th. D. Wulandari
Faridah Lim
Hasrat terus mencintaiOleh: Noerma Komalasari
Komentar
#2 - ihtiar
emang betul usaha jangan setengah-setengah lebih baik satu tapi ditekuni dan ikhtiar kepada yang diatas.
kasbun - Semarang/indonesia @ 19/11/2008 - 12:23 WIB dari 125.163.220.136 (136.subnet125-163-220.speedy.telkom.net.id)
#1 - Setuju
Saya setuju dengan mbak dengan semangat FOKUS, mudah-mudahan kosakata yang sering aku dengar ini segera aku bisa merealisasikannya untuk usahaku selama-lamanya.
dodi - Jakarta @ 13/10/2008 - 11:26 WIB dari 125.163.248.191 (191.subnet125-163-248.speedy.telkom.net.id)