• BMTR400
  • SDRA320
  • CTTH72
  • MNCN350
  • BMRI5200
  • BUMI2575
  • PGAS4075
  • TLKM8350
  • ASRI155
  • KIAS435
  • ADRO1900
  • ELTY255
  • ASIA106
  • BBTN1170
  • SULI225
  • LPKR530
  • BHIT830
  • VRNA95
  • BAYU173
  • INCO4225
Memoria Dwi Prasita

Memoria Dwi Prasita

Mengandalkan citra

Jumat, 19/06/2009 09:21:46 WIBOleh: Th. D. Wulandari
Kecap Bango hanya satu dari ribuan produk perusahaan raksasa, Unilever, yang dipasarkan di seluruh dunia. Namun, di Indonesia popularitasnya jauh dari tenggelam dan justru menjadi salah satu pemegang Top 5 Brand Word of Mouth 2009.

Tidak heran, kecap yang semula diproduksi oleh PT Anugrah Damai Pratama, sebelum diambil alih Unilever, memang memiliki kekuatan citra yang terbangun dari mulut ke mulut.

Produk ini juga dinobatnya menjadi salah satu pemegang Indonesia Original Brand 2009, karena keasliannya sebagai produk nasional yang sudah mengakar dalam budaya masak-memasak orang Indonesia.

Dua penghargaan itu tidak lepas dari kualitas produk yang andal. Namun, kekuatan citra sebuah merek tidak berhenti hanya dengan mengandalkan produk tanpa kiprah tim manajemen di tengah persaingan yang ketat.

Itulah yang menjadi santapan kerja sehari-hari Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk Memoria Dwi Prasita. Pekerjaannya apa lagi kalau bukan menangani merek Bango agar makin kuat di pasar dan dekat ke publik.

Beragam ide kreatif dia tuangkan, termasuk menciptakan kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian brand awarness Bango, salah satunya mengembangkan Festival Jajanan Bango.

"FJB [Festival Jajanan Bango] sudah dijalankan beberapa tahun, tetapi kami punya target membuat kegiatan ini makin besar dan menghadirkan lebih banyak orang. Akhirnya muncul ide membuat FJB roadshow ke berbagai kota," ujarnya.

Sejak tahun lalu, dia membuat magnitudo FJB menjadi lebih besar melalui roadshow. Tidak hanya menjaring publik di Jakarta, tetapi juga di kota besar lain.

Bukan usaha mudah tentunya karena Memor harus merelakan banyak waktu dan tenaga untuk membuat perencanaan kegiatan FJB.

Kerja kerasnya pun membuahkan pengakuan berupa penghargaan Marketing Dream Team Award 2008 versi majalah SWA yang dia peroleh bersama dua anggota timnya, karena dianggap sebagai tim marketing yang paling kompak dalam bekerja.

"Pokoknya tetap kerja keras, provided kemampuan diri, dan deliver more than expected," ujarnya mengemukakan kunci suksesnya dalam berkarier.

Bekal keyakinan

Mengulik riwayat pendidikannya, Memor memang tidak secara khusus berniat untuk bergelut di dunia pemasaran. Justru hanya dengan bekal keyakinan, anak kedua dari dua bersaudara keluarga tentara ini memberanikan diri melamar pekerjaan yang berseberangan dengan gelar sarjana teknik yang dia raih pada 2004.

Setelah mencicipi bidang ini, perempuan lulusan teknik industri Universitas Indonesia ini justru sangat menikmati, ibarat menemukan pasangan hidup.

Apalagi semenjak diminta menjadi brand manager untuk Kecap Bango, Memor makin yakin ini adalah pilihan kariernya.

Memor sempat bercita-cita bekerja di perusahaan yang berhubungan dengan kecantikan, fashion, dunia broadcasting, dan gaya hidup. Namun, cita-cita itu kurang pas dengan latar belakang pendidikannya.

"Pas ketemu marketing, saya pikir ini dia yang saya mau. Senang sekali karena pekerjaannya menggabungkan antara dunia marketing dan kreativitas yang saya suka," ujar perempuan kelahiran Surabaya, 29 tahun lalu itu sambil tertawa.

Mencapai posisi karier saat ini, jelas bukan tanpa rintangan. Memor bercerita tentang awal kariernya sebagai management trainee.

Enam bulan pertama, Memor menjalankan rutinitas kerja lapangan. Keluar masuk pasar dan terlibat dalam proses jual-beli produk Unilever dengan para pedagang.

"Bayangkan, satu bulan pertama saya benar-benar jadi salesman. Berangkat rapi dan cantik, begitu kerja dari pasar ke pasar naik ojek, berkeringat dan bau," perempuan berambut sebahu ini mengenang masa awal bergabung dengan Unilever.

Selama proses itu Memor dilibatkan dalam banyak kegiatan lini bawah produk Unilever, mulai dari pendekatan ke pedagang, mengurus administrasi, menawarkan produk ke pelanggan, hingga mengatur distribusi barang di pasar. Namun, semua itu dilakukan dengan senang hati.

Alhasil, 6 bulan berlalu dan Memor langsung mendapat posisi sebagai staf marketing di salah satu merek produk Unilever, Royco, hingga mendapat promosi jabatan sebagai asisten brand manager Royco.

Kinerjanya yang dianggap memiliki performa baik, membuat Memor dipindahkan ke merek Bango yang kala itu masih dalam tahap berkembang. Posisinya sebagai asisten brand building manager.

Meski Unilever adalah perusahaan pertama yang jadi pelabuhan hatinya mencari nafkah hingga kini, Memor merasa sudah sangat betah. "Saya ingin selalu membuat konsep agar Bango makin dekat dengan konsumen." (Aprika R. Hernanda) (wulandari@bisnis.co.id)

Komentar

Sosok

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika