Mohamad Sobary, tetap produktif di mana pun dia berkarya. Kini dia meluncurkan karya terbarunya, novel berjudul Kidung, yang menceritakan pengalamannya sebagai direktur eksekutif Partnership atau Kemitraan, organisasi multi pemangku kepentingan yang dibentuk untuk mendorong pembaruan tata pemerintahan.
Dasar Sobary, di mana pun dia tetap kritis. Dalam novelnya dia menyentil pemerintah di sana-sini. Kang Sejo, begitu dia akrab dipanggil, tetap kritis meski di dalam kungkungan pemerintahan.
Namun orang-orang pemerintah tetap saja akrab dengannya. Itu tercermin dari kehadiran mereka dalam peluncuran karya paling anyar pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952, di Puri Agung, Hotel Sahid, Jakarta, Rabu pekan ini.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Ketua Bappenas Paskah Suzetta dan sejumlah guru besar, koleganya di perguruan tinggi, hingga tokoh-tokoh lembaga swadaya masyarakat (LSM) tumplek dengan cair.
Novelnya berkisah tentang Partership, organisasi penting tempat dia menjadi direktur selama tiga tahun. Kisahnya diawali ketika mulai masuk lembaga itu.
Proses wawancara sebagai calon direktur diceritakan dengan lugas.
Awalnya dia bingung untuk menentukan pilihan hingga kahirnya dia mengambil pilihan yang lebih sulit, memilih kegelapan yang lebih pekat dan lebih tak terduga apa yang dihadapinya di lembaga itu. Maka pada hari Selasa Pon, hari kelahirannya, 2 Mei, hari kelahiran istrinya, dia memenuhi undangan wawancara itu. Tentu saja cerita berakhir ketika ia harus melepaskan jabatan itu.
Menurut Sobary, hidup ini sebuah kidung. Segala sesuatu bermula dari kidung, dan berakhir dalam kidung. Perasaan suka itu kidung. Sebaliknya, segala duka pun kidung. suka dan duka bukan dua entitas yang berbeda.
Begitulah Sobary, dosen FISIP UI ini menulis tentang dirinya.
Pada dasarnya dia adalah peneliti bidang kebudayaan pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang "dipinjamkan" untuk memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, mulai Maret 2000 sampai Juli 2005, lalu memimpin Partnership mulai 6 Juli 2006 sampai 30 Juni 2009. Ia merasa hidup dalam kidung, dan kemudian menulis Kidung ini. (ln)