Firmanzah

Firmanzah

Berbuat lebih baik

Jumat, 03/07/2009 09:25:05 WIBOleh: Rahmayulis Saleh
Saat hidup dibiarkan mengalir seperti air, justru banyak keberuntungan yang didapatkan secara kebetulan. Itu yang dijalani Firmanzah, dekan termuda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia periode 2009-2013.

Baginya, memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi bahkan hingga ke Eropa adalah keberuntungan karena tidak pernah terpikirkan sejak kecil. Kini, berkarier di dunia pendidikan ibarat refleksi perjalanan hidup yang penuh dedikasi dalam menimba ilmu.

"Semua Allah yang mengatur," kata laki-laki agamis yang menyabet gelar S2 dan S3 di Prancis meski sejak kecil dia tidak pernah membayangkan bisa bersekolah di Eropa.

Menurut dia, Tuhan sudah menentukan jalan hidup seseorang, tinggal bagaimana orang itu mengerjakan sinyal dari Sang Kuasa dan melakukannya dengan baik.

Laki-laki kelahiran 7 Juli 1976 ini menghabiskan masa kecil sampai SMA di Surabaya. Untuk melanjutkan pendidikan tinggi, dia mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) jurusan manajemen di FEUI hingga dinyatakan lolos.

Berangkat sendiri dan pertama kalinya untuk bersekolah di Jakarta, Fiz tidak begitu kesulitan. Fiz sudah dibiasakan oleh almarhum ibunya untuk hidup mandiri dan bekerja keras, serta taat beragama.

"Saat itu, saya memilih kos bersama teman dari Universitas Pancasila biar banyak kolega. Kalau masih dengan mahasiswa UI, lebih sering ketemu," kilahnya.

Dari banyak berteman dengan orang berbagai latar belakang, hal ini membuat hidup Fiz jadi dinamis dan lebih percaya diri. Di kampus dia aktif di senat mahasiswa. Walau sibuk berorganisasi, dia tetap bisa menyelesaikan S1 dalam waktu singkat 3,5 tahun.

Setelah lulus program S1, dia melanjutkan ke jenjang pascasarjana (Magister Management/MM) Ekonomi UI. Saat kuliah itu, dia berkenalan dengan seorang profesor dari Prancis yang menjadi dosen tamu di UI. Firmanzah ditawarkan untuk meneruskan kuliah di Prancis dengan program beasiswa.

Dia pun mendaftar sebagai S2 di University of Lille dengan beasiswa selama tiga tahun untuk S2 dan S3. Dalam waktu bersamaan, pagi kuliah S2 dan sore kuliah S3, Fiz dapat menyelesaikan jenjang S2 selama satu setengah tahun.

Ketika hendak menyelesaikan S3, sang profesor, Christophe Benavent, yang membimbingkan pindah kampus ke kota lain di Prancis. Karena terikat dengan disertasi dan keperluan bimbingan, Fiz pun mengikuti gurunya pindah ke University of Pau et Pays de l'Adour (UPPA) hingga mendapat gelar S3.

"Saya bisa selesaikan S2 dan S3 dalam waktu tiga tahun. Orang Prancis sendiri paling cepat 4,5 tahun," ujarnya bangga.

Setelah menyelesaikan program doktoralnya di Prancis , Fiz langsung direkrut menjadi dosan di UPPA. Dia sempat mengajar beberapa lama sampai akhirnya ada undangan dari UI untuk kembali ke kampus.

Dia sempat bingungkarena akan diangkat sebagai dosen tetap di Prancis. Di satu sisi negara memintanya pulang.

Mengabdi di dalam negeri

Akhirnya pada 2005, Fiz memilih pulang dan menerima tawaran bergabung dengan UI. Semula dia menjadi Sekretaris Departemen Manajemen FEUI, lalu diangkat menjadi Wakil Direktur Program Pasca Sarjana Ilmu Manajemen FEUI, dan menjadi Kepala Kantor Komunikasi UI.

Pada saat bersamaan dia juga mengajar bidang manajemen, marketing, strategi, dan filsafat untuk mahasiswa S1-S3 UI.

Tak lama kemudian, Fiz ditawarkan ikut pemilihan dekan FEUI. Dia pun mengikutinya bersaing dengan delapan calon lainnya yang lebih senior. Melihat kerja keras dan hasil kreativitas serta tingkat intelektualnya, Fiz terpilih sebagai dekan ke-14 FEUI dan usia termuda, yaitu 32 tahun, sepanjang berdirinya fakultas tersebut. Dia juga sebagai pegawai BHMN pertama yang menjabat posisi dekan.

Banyak program jangka pendek yang ingin dilakukannya untuk membenahi Fakultas Ekonomi UI. Kini dia membawahi sekitar 600 orang staf, termasuk dosen dan pegawai lainnya.

Dia juga ingin membenahi kurikulum, peningkatan komposisi doktor, dosen S3, jumlah penelitian, memperbanyak dosen asing, membenahi manajemen organisasi FEUI, dan membuat program FEUI bertaraf internasional.

Fiz yang kini tengah mengejar gelar profesor di UI ingin dikenal sebagai orang yang diperhitungkan di negeri ini. Tujuannya adalah apa pun dilakukan untuk membantu negeri ini dan demi kebaikan bangsa.

"Saya ini hidup dari budaya pesisir dan harus bisa membuka diri terhadap orang lain, toleransi tapi punya prinsip, dan bisa menempatkan diri. Kehadiran kita harus membuat suasana hidup berguna bagi banyak orang dan menyejukkan lingkungan," tuturnya.

Menyinggung kehidupannya yang tetap agamis meski sempat mengecap kehidupan dalam budaya barat, Fiz justru mengatakan Tuhan lebih dekat dengannya ketika di Prancis. "Dalam keramaian saya merasa sepi. Saya melihat begitu banyak ragam orang dengan berbagai pola tingkah laku."

Hal itu membuat dia merasa kecil di mata Tuhan yang menghidupkan berbagai macam manusia.

Kini, pria yang baru menikah 2 tahun lalu mengaku lebih bisa menjalani hidup apa adanya, mengalir seperti air. Namun, mengerjakan segala sesuatunya tetap penuh semangat dan mau berbuat lebih baik lagi.

"Saya suka memperhatikan perilaku orang, saya urut dari hilir ke hulu apa yang jadi permasalahan. Melihat banyak hal itu, saya ingin menulis buku lebih banyak lagi," tuturnya menyimpulkan perbincangan. (yuli.saleh@bisnis.co.id)

Komentar

Sosok

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika