Kristijanto

Kristijanto

Mengawal kader baru

Jumat, 22/01/2010 09:21:43 WIBOleh: Gita Arwana Cakti
Meniti karier ibarat mendaki gunung, semakin tinggi didaki, angin bertiup makin kencang. Pekerjaan dan beban tanggung jawab pun kian berat seiring perjalanan karier yang semakin tinggi.

Itu mengapa orang yang sukses berkarier adalah mereka yang mampu menjalankan perannya dengan profesional. Dia harus mampu menanggalkan beban pekerjaan lamanya dan fokus pada tanggung jawab baru seiring peningkatan jabatannya.

Tidak berlebihan jika ini menjadi prinsip kerja Deputy Associate Director PT Hino Motors Manufacturing Indonesia Kristijanto. Apalagi, dia merasa bertanggung jawab mengawal proses kaderisasi yang baik di sebuah perusahaan.

Kaderisasi atau pengalihan jabatan dari satu orang ke orang lainnya ini penting demi menjaga keberlangsungan perusahaan itu.

Pria penggemar segala sesuatu yang berbau militer ini memulai kariernya di Hino sejak 1989. Sebelum menempati jabatannya sekarang, Kris bertualang di berbagai bidang, a.l. technical division, procesing engineering, production control, dan quality control.

Pengalamannya selama hampir 21 tahun di Hino memberikan banyak pengetahuan baru bagi dirinya. Ilmu inilah yang perlu ditularkan kepada pekerja lain karena salah satu tugas seorang pemimpin adalah mencetak generasi penerusnya agar bisa bekerja sebaik dia, bahkan lebih baik lagi.

Kris sangat sadar proses regenerasi atau kaderisasi ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Sebagai deputy associate director, Kris memiliki tiga tanggung jawab utama. Pertama, di aspek legal. Dia bertanggung jawab untuk mengurus semua kesepakatan dengan pihak ketiga, perjanjian kontrak, baik di dalam maupun luar negeri.

Kedua, Kris juga harus bertanggung jawab terhadap compliance (aspek kepatuhan), baik dari sisi perusahaan maupun produk yang dihasilkannya, dalam hal ini adalah kendaraan bermotor. Peraturan dan undang-undang yang terkait dengan kendaraan bermotor harus dipenuhi, seperti sertifikasi, sedangkan divisinya di bagian corporate affair meng­urus keberadaan dan izin kerja dari pekerja luar negeri yang bekerja di Indonesia.

Ketiga, Kris juga berperan sebagai strategic planning. Dia harus melakukan pengkajian-pengkajian apa saja yang bisa dimanfaatkan perusahaan dan bagaimana menerap­kannya, termasuk mencari dan melihat peluang bisnis yang bisa diambil.

Terus berkembang

Memimpin tujuh orang staf, alumnus Teknik Mesin Universitas Trisakti ini berharap Hino bisa menjadi perusahaan yang terus berkembang dengan menjamin kader-kader pemimpin baru.

Hasil kerja Kris tidak sia-sia. Hino yang awalnya tidak memiliki pabrik di Indonesia, pada 17 Desember 2009 Hino meresmikan pabriknya di Purwakarta.

Jumlah tenaga kerja juga terus meningkat. Dari jumlah yang tidak mencapai seratus orang, kini Hino mempekerjakan hampir 1.000 karyawan.

Pasang surut dalam perkembangan per­usahaan pasti terjadi. Namun, Kris menyakini perusahaan ini masih bisa kembali bangkit dalam keterpurukan dan terus melabarkan sayapnya.

Tak heran, sepak terjang Hino, termasuk di antaranya peran Kris, mendapat apresiasi dalam Investment Award 2009 sebagai perusahaan dengan gelar terbaik pertama kategori PMA dengan tema sustainibilty investment.

Investment Award itu memang merupakan kompetisi tahun ketiga yang diikuti oleh Hino. Dua tahun sebelumnya Hino hanya berhasil masuk sebagai nominasi saja. Kris bersyukur, karena dengan adanya pengalaman di dua tahun sebelumnya, banyak hal yang dapat dipelajari oleh Hino.

Dalam mengikuti kompetisi ketiganya ini, Hino membentuk tim yang terdiri dari sembilan orang dan akhirnya disebut sebagai Tim 9. Kris bertindak sebagai koordinator dalam tim tersebut. Namun, Kris merendah, kemenangan tersebut tercapai bukan hanya adanya kerja keras dari Tim 9, melainkan juga kontribusi dari seluruh pekerja di Hino.

Bisnis di bidang kendaraan bermotor memang sangat fluktuatif. Dibutuhkan cuatu cara untuk bisa tetap berkembang. Salah satu cara yang diambil oleh Hino untuk mengembangkan perusahaannya itu adalah adanya product innovation.

Hino tidak hanya bergerak di pasar mainstream, tetapi juga di bidang yang tidak dilirik oleh kompetitor, seperti fasilitas mixer yang disediakan di kendaraan kecil, yang tidak dilakukan perusahaan lain.

Hino juga merupakan perusahaan yang memproduksi kendaraan berbahan bakar solar pertama, termasuk sebagai penyedia kendaraan berbahan bakar gas untuk kendaraan bus transjakarta. Hal-hal seperti ini yang akhirnya menjadikan PT Hino sebagai market leader sejak 2000.

Dalam menjalankan pekerjaannya, tentu ada suka duka yang dirasakan ayah dari dua orang anak ini, tetapi dia menganggap segala seuatunya harus dibuat santai.

"Saya juga menekankan pada anak buah saya untuk harus memiliki hobi. Hobi bisa menjadi sebuah pelarian ketika kita jenuh mengahadapi pekerjaan. Ketika kita sudah fresh lagi, kita juga bisa kembali bekerja dengan baik," ujar Kris.

Ke depannya, Kris memang belum memiliki rencana apa pun kecuali terus mengerjakan pekerjaannya ini semaksimal mungkin.

Namun, Kris tidak menutup kemungkin­an nanti mendapat kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi lagi atau bahkan memiliki bisnis sendiri. Karena itu, pria kelahiran Indramayu, 21 Desember 1964, ini akan tetap mensyukuri apa pun yang dia miliki. (arh) (redaksi@bisnis.co.id)

Komentar

Sosok

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika