R.D. Setiyawan
Tidak ada orang yang sama dan serupa meski kembar identik sekalipun. Tidak heran jika mengawal kompetensi sumber daya manusia dalam ruang lingkup pekerjaan juga tidak mudah.
Melibatkan banyak orang bukan berarti pasti mempermudah kinerja, apalagi jika pekerjaan yang dilakukan membutuhkan keahlian dan ketentuan khusus, seperti operasional pabrik, pengerjaan konstruksi hingga pekerjaan teknis di ladang minyak.
Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia pun kini menjadi isu sentral. Variabel ini merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja industri secara keseluruhan.
Pengalaman mengelola sumber daya sekaligus menjaga kualitas ini ibarat menu sehari-hari Team Leader Operation & Maintenance Certification Human Resources PT Chevron Pacific Indonesia R.D. Setiyawan.
Bertanggung jawab terhadap manajemen kualitas karyawan, pria kelahiran Malang, 22 Agustus 1957, ini berprinsip tidak gentar menghadapi tantangan, apalagi putus asa mejalani beban pekerjaan yang sehari-hari harus berhadapan dengan sesama karyawan salah satu perusahaan minyak kelas kakap itu.
Setiyawan yang ditempatkan di salah satu wilayah migas Chevron, lapangan Duri di Riau, bertanggung jawab di bidang operation & maintenance certifications (O&MC) dengan salah satu tugas rutinnya adalah melakukan penilaian (assessment) terhadap kompetensi karyawan.
Dia mengaku tidak mudah untuk memberikan penilaian terhadap setiap orang. "Kami melakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif dan edukatif."
Menurut dia, penting bagi setiap karyawan untuk mengetahui potensi yang mereka miliki. Dengan begitu, para karyawan diharapkan bisa terus berupaya mengelola dan meningkatkan potensinya sebaik mungkin.
Tanpa pengelolaan dan kendali yang ketat, tenaga kerja yang hampir pasti tidak memiliki kemampuan seragam akan menjadi bumerang bagi perusahaan. Orang-orang seperti Setiyawan inilah yang kemudian menjadi benteng untuk menjaga kompetensi dengan menjalankan prosedur perusahaan.
Apa yang dia lakukan pun tidak sekadar menjalani prosedur, terbukti Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menetapkan Chevron sebagai salah satu perusahaan skala besar yang berhasil mengelola kualitas SDM sekaligus memberikan penghargaan Competency Award 2009.
Standar baku
Selain terlibat dalam manajemen pengelolaan SDM, alumnus Teknik Sipil Universitas Rancakuning Riau ini juga menjadi wakil Chevron dalam penyusunan materi uji kompetensi yang akan dipakai sebagai standar baku bagi semua pegawai industri migas di Indonesia.
Materi tersebut disusun oleh tim penyusun Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) di bawah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi (Pusdiklat Migas).
Penyusunan ini dilakukan untuk meningkatkan standar kompetensi SDM di Indonesia dan khususnya di bidang migas, yang kemudian disosialisasikan melalui kegiatan konvensi nasional di Jakarta. Saat itu PT Chevron menugaskan Setiyawan sebagai perwakilan narasumber.
Setelah beberapa waktu setelah penyusunan itu, BNSP melakukan assestment di Duri. Setiyawan bersama rekannya pun mengikuti program pelatihan accessor licensee dan berhasil lulus dengan nilai terbaik. Itu semua menjadi bekalnya untuk mengawal kompetensi SDM yang bekerja di Duri.
Dalam melakukan penilaian yang biasanya lebih banyak dilakukan pada akhir periode kerja tahunan atau akhir tahun, tantangan terberat adalah melakukan penilaian pada akhir tahun.
Ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sedangkan jumlah karyawan yang harus dinilai tidak sedikit. Apalagi, biasanya pada akhir tahun banyak hal atau pekerjaan yang harus diselesaikan.
Namun, Setiyawan tidak menyerah. Dia juga terpicu untuk terus mengasah keahliannya. "Hal ini membuat saya terpacu untuk selalu belajar dan menambah ilmu, sehingga dapat menjawab pertanyaan karyawan," ujarnya.
Menurut dia, menambah ilmu penting untuk terus bersaing di era globalisasi. Pengalaman bekerja pria yang aktif di Majelis Pembina Pramuka Chevron di perusahaan ini sejak April 1980 tidak membuatnya berhenti belajar.
Padahal, dia sudah cukup malang-melintang di sejumlah bidang kerja di sektor perminyakan ini. Sebelum menduduki jabatannya sekarang Setiyawan pernah merasakan bekerja di bagian perawatan sumur (well services), petroleum engineering, production analyst, dan production operation.
Ke depan, pria yang juga merupakan ketua I dan pelatih Perisai Diri untuk Kabupaten Bengkalis ini memiliki keinginan yang sederhana, tetapi mulia. Dia hanya berharap SDM di industri migas bisa menjadi tenaga andal dan memiliki kompetensi tingkat dunia.
Bagi dia, harapan itu seperti pegas yang memicu semangat orang untuk terus maju. Dengan pengalamannya mengelola SDM selama ini, dia yakin keinginannya bisa terwujud melalui penilaian di semua lini, dari tingkat operator hingga teknisi, bahkan hingga di level manajerial. (arh) (redaksi@bisnis.co.id)