Bisnis Indonesia Online » Umum » Internasional


Kamis, 01/05/2008 15:59 WIB

Malaysia dukung perdamaian di Filipina

oleh : Djony Edward

MANILA: Malaysia tetap membantu mendorong perdamaian di wilayah Filipina selatan yang kacau kendatipun menurut rencana akan menarik para pemantau perdamaiannya, kata panglima militer negara itu, Kamis.

"Sejauh menyangkut Malaysia , kami tidak melepaskan diri dari proses perdamaian di wilayah selatan itu," kata panglima militer Jenderal Abdul Aziz Zainal kepada wartawan di Manila seperti dikutip AFP.

"Malaysia akan tetap melanjutkan komitmen itu," kata Aziz yang menurut rencana akan bertemu dengan kontingennya di pulau Mindanao, akhir pekan ini untuk membicarakan penarikan tim itu September mendatang.

Malaysia memimpin satu tim internasional yang bertugas memantau gencatan senjata antara gerilyawan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang memiliki 12.000 anggota dan Manila. Kelompok gerilyawan itu melancarkan perjuangan berdarah untuk mendirikan sebuah negara Muslim sejak tahun 1978.

Tim itu juga termasuk pasukan perdamaian dari negara-negara Muslim Libya dan Brunei Darussalam serta para pemantau dari Jepang.

Aziz mengatakan pemerintahnya sedang membicarakan kemungkinan penggelaran kembali berdasarkan satu "format" baru bagi kemungkinan pasukan Malaysia untuk tetap berada di Filipina dalam jumlah terbatas.

Kehadiran para pemantau internasional di Mindanao berhasil menurunkan jumlah bentrokan senjata dari 589 insiden tahun 2004 menjadi hanya 15 insiden tahun lalu, kata panglima militer Filipina Hermogenes Esperon.

Aziz menegaskan gencatan senjata akan tetap berlaku menyusul penarikan para pemantau Malaysia , walaupun para pemimpin MILF memperingatkan tentang kemungkinan aksi kekerasan baru.

"Kami sangat yakin bahwa situasi akan terus membaik," katanya.

Para pejabat Malaysia sebelumnya menyatakan bahwa kemacetan dalam perundingan perdamaian antara MILF dan pemerintah Filipina sebagai alasan bagi penarikan itu.

Dalam satu terobosan penting, kedua pihak tahun lalu menandatangani satu perjanjian untuk mewujudkan sebuah wilayah otonomi Muslim di selatan. Tetapi perundingan-perundingan itu macet di tengah-tengah pertikaian menyangkut apa yang disebut "daerah kekuasaan leluhur".

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Menlu Malaysia tegaskan tak langgar konvensi PBB
  • Kunjungan wanita Malaysia ke luar negeri dibahas
  • PBB kirim tim kemanusiaan ke Myanmar
  • Bom bunuh diri di Pakistan ciderai 30 orang

Komentar

Beri Komentar