Bisnis Indonesia Online » Umum » Internasional


Jumat, 08/08/2008 19:31 WIB

Ancam Obama, seorang pria ditahan

oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA: Seorang pria yang menurut pihak berwenang menyimpan senjata dan perlengkapan ala militer di kamar hotel dan mobilnya diseret ke pengadilan, Kamis, atas tuduhan mengancam akan membunuh calon presiden Partai Demokrat, Barack Obama.

Raymond Hunter Giesel, 22, ditahan oleh Dinas Rahasia AS pada hari Sabtu di Miami dan diperintahkan untuk ditahan di pusat penahanan pusat kota Miami tanpa uang jaminan, Kamis, oleh hakin federal.

Sebuah afidavit dari Dinas Rahasia menyatakan bahwa Geisel melakukan ancaman tersebut di kelas pelatihan untuk staf jaminan (bail bondsmen) di Miami, akhir Juli. Menurut seorang peserta lain di kelas yang berisi 48 orang tersebut, Geisel diduga menyebut Obama dengan julukan rasial dan melanjutkan dengan “Jika dia terpilih, saya akan membunuhnya sendiri.”

Obama baru saja berada di Florida pada 1-2 Agustus silam, tetapi tidak mengunjungi wilayah Florida Selatan. Satu orang lain di kelas tersebut mengutip pernyataan Geisel sebagai “dia membenci George W. Bush dan bahwa dia ingin melesakkan peluru di kepala presiden tersebut”, demikian menurut Dinas Rahasia.

Geisel dalam satu pernyataan tertulis kepada seorang agen Dinas Rahasia membantah bahwa ia pernah melontarkan ancaman-ancaman tersebut, dan berbagai dokumen tidak mengindikasikan bahwa dia pernah melakukan tindakan untuk melaksanakan pembunuhan apa pun. Dia digugat hanya dengan tuduhan telah mengancam Obama, tetapi tidak untuk ancaman terhadap Presiden Bush.

Pengacara yang ditunjuk pengadilan untuk Geisel enggan berkomentar. Tuduhan mengancam seorang calon kuat presiden atau wakil presiden dapat mengakibatkan hukuman penjara maksimal lima tahun.

Kampanye Obama menolak untuk berkomentar mengenai ancaman tersebut, Kamis.

Dalam wawancara dengan seorang agen Dinas Rahasia, Geisel mengatakan “jika dia ingin membunuh Senator Obama dia akan langsung menembaknya dengan sepucuk senapan sniper, tetapi kemudian dia mengaku hanya bercanda”, demikian menurut dokumen pengadilan.

Penggeledahan terhadap mobil Ford Explorer 1998 milik Geisel dan kamar hotel di Miami yang dihuninya menghasilkan sepucuk pistol 9mm yang terisi peluru, sejumlah pisau, puluhan set amunisi termasuk jenis yang dapat menembus baja, baju baja, pakaian ala militer, dan sebuah machete. Mobil jenis SUV, yang berplat Maine tersebut, dipasangi lampu darurat merah kuning yang berkedap-kedip.

Geisel mengaku kepada Dinas Rahasia bahwa dia berasal dari Bangor, Maine, dan belakangan ini tinggal di sebuah rumah perahu di kota Marathon, Florida, demikian menurut dokumen pengadilan. Dia mengatakan menggunakan pistol tersebut untuk berlatih untuk kelas staf penjamin, pisau untuk proteksi, dan menggunakan machete untuk memotong semak-semak di Maine.

Pihak berwenang di Maine mengatakan Geisel mengaku bersalah atas tuduhan melakukan pengancaman kriminal dalam insiden tahun 2007 dan menghabiskan waktu 48 jam di sebuah sel penjara di Bangor.

Polisi di Hampden, sebuah kota persis di luar Bangor, mendapatkan pengaduan dari saudara laki-laki Geisel pada 18 Oktober 2007 bahwa Geisel telah mengancamnya dengan menggunakan sebilah pisau. Polisi Hampden, Sersan Dan Stewart mengatakan Geisel dikenakan tuduhan ancaman kriminal dan teror; tuduhan kedua akhirnya dibatalkan.

Afidavit Dinas Rahasia menyatakan bahwa Geisel berkata kepada para agen bahwa ia menderita masalah psikis termasuk penyakit stres pasca trauma, tetapi ia tidak dapat menyebutkan nama-nama fasilitas tempat dia pernah dirawat. (t01)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Pasukan India sisir kamar hotel cari teroris
  • ASEAN+3 kumpulkan US$150 miliar
  • Presiden Yudhoyono kutuk serangan di India
  • Australia berlakukan travel warning ke India

Komentar

Beri Komentar