Sarwany setengah abad taklukan harimau

Sabtu, 07/11/2009 13:51:44 WIBOleh: Antara

BANDA ACEH (Antara): Tubuh kurus yang dibalut kemeja lusuh dan celana panjang kain itu terlihat kontras di antara para ranger dan polisi hutan (polhut) yang berseragam menikmati tontonan gajah dimandikan di sungai.

Sosoknya yang bersahaja layaknya pria berusia lanjut biasa, namun di balik kesederhanaannya, Sarwany Saby, 72, adalah sosok yang mampu menaklukan si raja hutan.

Sejak usia 18 tahun, Sarwany muda sudah mulai ikut orang tuanya masuk hutan untuk menaklukkan harimau yang mengganas. Berbekal ilmu yang diajarkan orangtua, ia mulai turun sendiri menangani harimau sekitar 1960 jika diminta masyarakat yang resah akibat gangguan hewan tersebut.

Hingga saat ini sudah lebih 100 ekor harimau yang berhasil ditanganinya. "Ada syarat-syarat dan doa tertentu untuk mengusir harimau yang saya pelajari dari orangtua," ujarnya.

Tugas menangani harimau dilakukannya hingga hampir ke seluruh Aceh, di mana ada harimau mengamuk mengganggu warga ia pasti turun membantu tanpa mematok bayaran. Konflik harimau dengan manusia cukup tinggi di provinsi paling barat Sumatra itu.

"Saya tidak menetapkan bayaran, selama saya masih mampu akan saya bantu masyarakat karena saya melakukannya bukan karena terpaksa," katanya.

Ia mengaku hobi menaklukkan sang raja hutan. Untuk profesi yang unik tersebut mutlak harus memiliki keberanian, namun tidak boleh takabur. Selain itu "kita" juga mengerti taktik dan bahasa isyarat harimau.

Sepanjang karirnya, pria asal desa Sawang Teube Kecamatan Kaway XIV, Kabupaten Aceh Barat itu punya kesan tersendiri saat menangani harimau yang sudah pernah menerkam manusia.

Sarwany turun tangan menangani harimau yang sudah menerkam enam orang di Peulumat Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan setelah empat pawang harimau tidak berhasil menangani amukan di raja hutan.

"Saya berkesan dengan penangangan harimau yang sudah menerkam manusia di Aceh Selatan karena lebih sulit dan ganas dibandingkan harimau yang hanya memangsa ternak," ujarnya.

Menurut pria yang hanya sempat mengecap pendidikan sampai kelas dua Sekolah Rakyat itu, setelah berhasil menangani harimau pemangsa manusia pada 2007, ia diangkat oleh Balai Konservasi dan Sumberdaya Alam (BKSDA) sebagai pawang harimau untuk seluruh Aceh.

Di usianya yang sudah di atas setengah abad, ia telah menurunkan keterampilannya kepada anak-anaknya, sebab ia mengaku sudah terlalu tua untuk bisa terus menaklukkan harimau.

Ayah 14 anak, lima di antaranya meninggal, itu sangat berharap bisa menunaikan rukun Islam kelima menunaikan ibadah haji, namun masih terkendala biaya, sehingga pria yang biasanya bercocok tanam itu berharap Pemerintah Aceh dapat membantu "meringankan" jalan ke tanah suci.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika